Showing posts with label motivasi. Show all posts
Showing posts with label motivasi. Show all posts

Seni adalah keindahan

Posted by Noer Rachman Hamidi on Sunday, January 26, 2014


”Seni adalah keindahan". Ia merupakan ekspresi ruh dan budaya manusia yang mengandung dan mengungkapkan keindahan. Ia lahir dari sisi terdalam manusia didorong oleh kecenderungan seniman kepada yang indah, apa pun jenis keindahan itu. Dorongan tersebut merupakan naluri manusia atau fitrah yang dianugrahkan Allah kepada hamba-hamba-Nya. Di sisi lain al-Qur’an memperkenalkan agama yang lurus sebagai agama yang sesuai dengan fitrah manusia.

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” 
(Q.S. al-Rûm [30]: 30)

Merupakan suatu hal yang mustahil, bila Allah menganugerahkan manusia potensi untuk menikmati dan mengekspresikan keindahan, kemudian Dia melarangnya. Bukankah Islam adalah agama fitrah? Segala yang bertentangan dengan fitrah ditolaknya, dan mendukung kesuciannya ditopangnya. Kemampuan berseni merupakan salah satu perbedaan manusia dengan makhluk lain. Jika demikian, Islam pasti mendukung kesenian selama penampilan lahir dan mendukung fitrah manusia yang suci itu, dan karena itu pula Islam bertemu dengan seni dalam jiwa manusia, sebagaimana seni ditemukan oleh jiwa manusia di dalam Islam.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.” 
(Qs. al-Mâ’idah [5]: 87).

Dari sini kita dapat memahami bahwa musik ada yang diharamkan, yaitu musik yang disertai dengan kemaksiatan atau kemunkaran, baik berupa perkataan (qaul), perbuatan (fi’il), atau sarana (asy-yâ’), misalnya disertai khamr, zina, penampakan aurat, ikhtilath (campur baur pria–wanita), atau syairnya yang bertentangan dengan syara’, misalnya mengajak pacaran, mendukung pergaulan bebas, mempropagandakan sekularisme, liberalisme, nasionalisme, dan sebagainya.

Adapun musik yang dihalalkan didasarkan yaitu musik yang kriterianya adalah bersih dari unsur kemaksiatan atau kemunkaran. Misalnya nyanyian yang syairnya memuji sifat-sifat Allah SWT, mendorong orang meneladani Rasul, mengajak taubat dari judi, mengajak menuntut ilmu, menceritakan keindahan alam semesta, dan semisalnya.

Karena semua harus diniatkan sebagai ibadah kepada Allah Ta'ala maka kita haruslah berusaha mengamalkannya dengan mencegahnya dari unsur kemaksiatan dan kemungkaran agar tidak melakukan hal yang sia-sia.

Akan tetapi banyak sekali para ulama salaf yang tidak setuju berdasarkan referensi hadist-hadist yang dibuat pada jaman telah lalu tanpa mau melihat perkembangan umat di jaman sekarang dimana teknologi audio visual sudah menjadi kebutuhan umat di dunia, seperti media, seni dlsb. dlsb. Bahkan menolak tanpa melihat "fitrah yang Allah SWT berikan kepada manusia" hanya berdasarkan hadist-hadist yang dijadikan rujukan mereka.

“Dan di antara manusia ada orang yang mempergunakan "lahwa al-hadist" (hukum/rujukan tidak berguna) untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu ejekan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepadanya "ayat-ayat Kami" (Al Quran) dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah dia dengan azab yang pedih.” (Q.S. Luqmân [31]: 6-7).

Disinilah terjadinya permasalahan yang sebenarnya, karena kita tidak mau merujuk kembali kepada rujukan yang benar AlQuran, maka umat ini menjadi tersesat (bingung). Alhasil manyebabkan umat lain mengejek umat ini sebagai umat yang selalu bermasalah (bukan umat yang memberikan solusi/Rahmatan lil Alamin). Bahkan yang lebih mengiris hati penghinaan ditujukan atas umat ini dengan tuduhan "teroris" bahkan disertai dengan azab Allah Ta'ala yang sudah mulai diturunkan, yaitu dengan mudahnya kaum kuffar membunuh kaum muslimin tanpa dasar dengan tuduhan teroris. La hawla wala quwwata illa billah, ayatMu ini telah Engkau tunjukkan kebenarannya. Apakah ini adalah adzab yang menghinakan..? Astaghfirullah...

Jadi disinilah seharusnya peran para ulama untuk membuat ijtihad berdasarkan kemajuan ilmu pengetahuan di saat ini sesuai dengan AlQuran dan fitrah manusia untuk menuju persatuan umat. Jangan sampai umat bingung dan malah ribut gak karuan. Lebih-lebih lagi banyak para ulama yang seharusnya menjadi contoh saling berbeda satu dengan lainnya, tidak mau bersepakat, merasa paling benar (sombong) dan berani mengkafirkan kepada sesama muslimin, nauzubillah...

Strategy utama yang amat sangat dibutuhkan untuk umat saat ini adalah bagaimana kita bisa berjuang dalam ‘ barisan yang teratur , seakan –akan seperti bangunan yang tersusun kokoh ‘ (QS 61 :4)

Jadi Akhlak menjadi penting disini setelah Tauhid. Persatuan umat ini merupakan salah satu Akhlakul Karimah, amal soleh yang harus dijalankan oleh kita semua sebagai umat yang seharusnya menjadi umat Rahmatan lil Alamin.

Setiap diri kita haruslah bisa menjadi bagian pagar – yang mencegah umat lain masuk dan mengobok-obok kepentingan umat. Inilah pentingnya umat ini untuk merapatkan barisan di setiap aspek kehidupannya – termasuk juga dalam bermuamalah.

Setiap diri kita adalah batu bata dari bangunan Islam, maka hendaklah kita berperan untuk menjadi batu bata terbaik di bidang kita masing-masing,  sehingga secara bersama-sama kita menjadi bangunan yang tersusun kokoh dan indah.

Seharusnya umat inipun punya standar yang sangat tinggi yang disebut Ikhsan, bila kita memfokuskan karya kita untuk menjadi yang terbaik dalam bidangnya – jauh melebihi yang standar, maka tidak ada yang kita perlu dikhawatirkan akan balasannya – karena Allah sendirilah yang menjanjikan balasanNya “ Tidak ada balasan untuk sesuatu yang ikhsan kecuali yang ikhsan pula” (QS 55 :60)

Seperti apa orang-orang yang bisa melakukan implementasi dalam usaha keumatan ini dalam suatu barisan yang rapat dan dengan kualitas kerja yang ikhsan – jauh melebihi yang sekedar standar ?, itulah orang-orang yang Qawiyyun Amin Hafidzun ‘Alim (QAHA – QS 28:26 dan QS 12 :55) yaitu yang kuat (dalam bahasa sekarang professional dan competent di bidangnya), amanah, pandai memelihara/menjaga (baik kemampuan manajerialnya) dan tentu juga berilmu yang lebih dari cukup dibidangnya.

Sangat berharap sekali umat ini benar-benar merujuk kepada AlQuran sebagai rujukan yang adil dan benar karena memang "telah dijamin dan dijaga kebenarannya oleh Allah SWT", kemudian secara sungguh-sungguh dan bersama-sama kita meng-implementasikannya, maka insyaAllah waktunya tidak lama lagi umat ini bisa kembali berjaya di segala bidang. InsyaAllah. Amin YRA.

Wallahu A'lam.
Description: Seni adalah keindahan
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Seni adalah keindahan
SelengkapnyaSeni adalah keindahan

Ideologi kita yang seharusnya...

Posted by Noer Rachman Hamidi on Monday, August 19, 2013


Semenjak runtuhnya tatanan kenegaraan Islam alias Khilafah Islamiyyah pada tahun 1924 atau 1342 Hijriyyah, maka dunia menyaksikan berdirinya berbagai Nation State atau Negara Kebangsaan. Bangsa-bangsa Muslim membangun negara di negerinya masing-masing dengan menjadikan nasionalisme sebagai landasan kehidupan berbangsa dan bernegara. Suatu perubahan yang sangat signifikan dan mendasar jika dibandingkan dengan tatanan kenegaraan sebelumnya dimana Khilafah Islamiyyah menjadi sebuah sistem yang mempersatukan segenap ummat Islam berdasarkan kesatuan aqidah Islamiyyah dan dengan sendirinya kesatuan fikrah Islamiyyah alias ideologi Islam.

Dalam tatanan kenegaraan Negara Kebangsaan faktor bangsa menjadi sebab persatuan dan kesatuan. Sedangkan dalam sistem Khilafah Islamiyyah faktor Islam sebagai keyakinan dan ideologi menjadi sebab persatuan dan kesatuan. Maka dengan sendirinya kita menyaksikan mengapa sejak munculnya berbagai Nation State di tengah kehidupan bernegara ummat Islam terjadilah degradasi penghayatan Islam sebagai ideologi dan peningkatan penghayatan ideologi kebangsaan di dalam diri banyak ummat Islam.

Sesungguhnya Islam tidak menafikan kehadiran bangsa dalam kehidupan ummat manusia. Hadirnya aneka jenis bangsa adalah suatu keniscayaan dalam realitas sosial masyarakat dunia. Al-Qur’an mengakui kenyataan ini.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا
وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ta’aala ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah ta’aala Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Al-Hujurat ayat 13)

Namun Islam tidak pernah memandang bahwa mulia-hinanya seseorang atau sekelompok orang ditentukan oleh faktor bangsa. Lain halnya dengan urusan taqwa dan aqidah. Islam sangat peduli dengan beriman-tidaknya seseorang atau sekelompok orang. Suatu masyarakat yang terdiri atas kumpulan orang-orang beriman dipandang sebagai masyarakat yang mulia di mata Allah ta’aala. Sedangkan masyarakat yang ingkar alias kafir adalah masyarakat yang hina di mata Allah ta’aala, betapapun secara material dan teknologi ia merupakan masyarakat maju.

إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتِ النَّعِيمِ أَفَنَجْعَلُ
الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ

“Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) surga-surga yang penuh keni’matan di sisi Tuhannya. Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Mengapa kamu (berbuat demikian): bagaimanakah kamu mengambil keputusan?” (QS Al-Qolam ayat 34-36)

Khilafah Islamiyyah merupakan tatanan kehidupan bernegara ummat Islam yang mempersatukan segenap kaum muslimin dari ujung timur hingga ujung barat bumi Allah ta’aala. Penghayatan siapa yang menjadi in-group atau out-group ummat adalah aqidah Islamiyah. Sedangkan dalam kehidupan Negara Kebangsaan maka siapa yang dianggap sebagai in-group bangsa adalah siapapun, apapun keyakinan dan agamanya, asalkan ia sebangsa dan setanah-air, maka ia dianggap sebagai saudara sebangsa. Siapapun yang di luar negaranya dan bangsanya dianggap sebagai out-group kendati ia memiliki aqidah Islamiyyah yang serupa dengan aqidahnya.

Maka wajarlah bilamana seorang Muslim yang menerima dengan sukarela apalagi dengan sungguh-sungguh faham Nasionalisme akan cenderung menjadi sulit menampilkan ideologi Islam sebagai identitas pertama dan utamanya. Ia akan cenderung mendegradasikan identitas Islamnya demi menjaga persatuan dan kesatuan dengan sesama ”anak bangsa” yang beraneka ragam latar belakang keyakinan dan agama. Dan orang seperti ini akan sulit untuk bisa memandang kaum muslimin di luar bangsanya sebagai saudara seiman yang harus lebih dia utamakan daripada saudara sebangsa dan setanah-airnya.

Padahal ketika sudah masuk liang lahat malaikat samasekali tidak akan menanyakan soal identitas bangsa jenazah. Tetapi jelas ia akan ditanya soal identitas agamanya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits di bawah ini:

فَتُعَادُ رُوحُهُ فِي جَسَدِهِ فَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولَانِ لَهُ
مَنْ رَبُّكَ فَيَقُولُ رَبِّيَ اللَّهُ فَيَقُولَانِ لَهُ مَا دِينُكَ فَيَقُولُ دِينِيَ الْإِسْلَامُ

Maka ruhnya dikembalikan ke jasadnya, datang dua malaikat bertanya:”Siapa rabbmu?” Dia menjawab:”Rabbku Allah”, lalu :”Apa diin(agama)-mu?” Dia jawab:”Diin-ku Islam.” (HR Ahmad)

Ya. Allah, jadikanlah kami benar-benar ridha akan Islam sebagai agama, identitas dan ideologi kami tanpa perlu di embel-embeli dengan identitas dan ideologi lainnya. Ya Allah, kami yakin bahwa ajaranMu sudah sempurna dan lengkap.

رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا

“Aku ridha Allah sebagai Rabbku, Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam sebagai Rasul dan Islam sebagai Agama.”
Amin YRA

rumah hikmah.


Description: Ideologi kita yang seharusnya...
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Ideologi kita yang seharusnya...
SelengkapnyaIdeologi kita yang seharusnya...

Memenangi peperangan tanpa pertempuran

Posted by Noer Rachman Hamidi on Sunday, August 18, 2013


Bagaimana kita bisa memenangi ‘peperangan’ dalam usaha ini tanpa harus melalui ‘pertempuran’ yang akan menghabiskan resources kita?.

Berikut ini adalah lima strategy ‘perang’ tanpa ‘bertempur' yang umumnya efektif dalam dunia usaha:
  1. Create Differentiation atau buat produk barang atau jasa Anda berbeda dengan produk barang atau jasa yang ada di pasar.
  2. Focus On The Moment of Truth, yaitu menghadirkan produk barang atau jasa kita pada saat customer mengambil keputusannya untuk membeli/memanfaatkan produk barang atau jasa tersebut.
  3. Good, Better and Best yaitu menghadirkan pilihan yang semuanya baik bagi pasar Anda.
  4. Value Proposition yaitu apa manfaat yang dirasakan oleh customer kita dari produk barang atau jasa tersebut.
  5. Plan, Do, Measure and Adjust; semua hal tersebut tidak ada gunanya apabila tidak diimplementasikan. Tentu akan memerlukan penyempurnaan terus menerus, itulah sebabnya kita terus melakukan kajian-kajian (measure) dan penyesuaian (adjust) di lapangan.
Semoga Allah memudahkan jalanNya bagi kita semua untuk terus beramal shaleh yang diridloiNya. Amin.
Wallahu A'lam.
‪#‎mengukur‬ usaha kita sendiri.
Eksportir Indonesia Description: Memenangi peperangan tanpa pertempuran
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Memenangi peperangan tanpa pertempuran
SelengkapnyaMemenangi peperangan tanpa pertempuran

Berusaha mengentaskan Kemiskinan

Posted by Noer Rachman Hamidi


Selama sepuluh tahun terakhir, hanya dua tahun dimana PDB Per Kapita kita mampu melampaui nishab zakat yaitu tahun 2001 (20.35 Dinar) dan 2002 (21.20 Dinar). Tahun-tahun berikutnya cenderung menurun dan terendah tahun 2009 yang tinggal 16.55 Dinar.

Apa maknanya PDB Per Kapita yang dibawah nishab zakat ini ?, artinya rata-rata penduduk negeri ini berhak menerima zakat dan belum wajib zakat. Maknanya adalah rata-rata penduduk negeri ini masih tergolong miskin menurut standar Islam, dengan timbangan yang kita yakini akurat sepanjang zaman yaitu nishab zakat yang 20 Dinar tersebut.

Namun realita ini tidak perlu membuat kita bersedih atau berkecil hati karena kemiskinan tidak teratasi dengan hanya bersedih, bahkan akan bertambah parah bila kita berkecil hati. Yang kita perlukan adalah setelah sadar akan realita ini adalah apa yang bisa kita perbuat untuk ikut terlibat dalam upaya pengentasan kemiskinan tersebut.

Inilah peluang itu, kini terbuka peluang lebar bagi kita untuk menempuh jalan yang mendaki lagi sukar untuk bisa berbuat sesuatu dalam ikut memerangi kemiskinan. Membangun usaha yang bisa menciptakan lapangan pekerjaan seluas-luasnya tentu tidak mudah, lebih mudah bekerja di perusahaan atau instansi yang mapan – dengan perbagai fasilitasnya.

Namun kalau mayoritas kita berpikiran demikian lantas tugas siapa untuk menciptakan lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya ini?; Tugas pemerintahkah?. Para pemimpin negeri ini tentu akan ditanya nanti atas kepemimpinannya, namun kita sebagai individu juga akan tetap ditanya atas apa yang kita lakukan.

Ayat-ayat dibawah bukan hanya ditujukan untuk para pemimpin negeri ini, tetapi untuk kita semua. Punya jawabankah kita bila waktunya kelak kita ditanya akan hal ini?.
“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan). Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?. (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan...”. (Al-Balad 10-14)

Dalam Islam bekerja secara maksimal diajarkan dalam rangkaian do’a yang tergabung dalam do’a khatam Al Qur’an:
“....Allhummaj’al khaira ‘umry aakhirahu wa khaira ‘amaly khawaatimahu wa khaira ayyaami yauma alqooka fiih”,
yang artinya, “Ya Allah jadikanlah yang terbaik dari umurku adalah akhirnya, dan yang terbaik dari amal perbuatanku adalah penutupnya, dan yang terbaik dari hariku adalah hari ketika aku bertemu denganMu....”.

Do’a untuk mati di puncak pencapaian ini juga dicontohkan di Al-Qu’ran. Ketika Nabi Yusuf Alaihi Salam sudah menjadi raja dan sudah dipertemukan dengan kedua orang tuanya yang terpisah sejak kecil, dia-pun memohon : “Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian takbir mimpi. (Ya Tuhan). Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (QS 12:101).

Semoga Allah memudahkan kita untuk amal yang diridloiNya. Amin YRA.
‪#‎memotivasi‬ diri sendiri.
www.rumah-hikmah.com Description: Berusaha mengentaskan Kemiskinan
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Berusaha mengentaskan Kemiskinan
SelengkapnyaBerusaha mengentaskan Kemiskinan

Memahami Al Quran

Posted by Noer Rachman Hamidi


“(Al Qur'an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS 3:138).

Bila hanya sebagai penerang atau penjelasan (bayaan), maka Al-Qur’an adalah untuk semua manusia (linnaas). Itulah sebabnya banyak orang yang sangat memahami Al-Qur’an, tetapi Al-Qur’an-nya tidak/belum tentu menjadi petunjuk dan nasihat baginya – Al-Qur’an berhenti sebatas ilmu atau sekedar penjelasan baginya. Al-Qur’an tidak menjadi perbuatan atau amalan-nya.

Al-Qur’an baru menjadi penggerak bila setelah menjadi ilmu atau pemahaman, Al-Qur’an berlanjut menjadi petunjuk (huda) dan nasihat (mau’idhah) – dan ini hanya berlaku bagi orang-orang yang bertakwa (lilmuttaqiin).

Namanya juga petunjuk, Al-Qur’an akan menjadi petunjuk dan nasihat - bila setelah memahaminya orang tergerak untuk ber’amal sesuatu (yang baik) atau menghentikan suatu amal/perbuatan (yang buruk). Karena takwa antara lain adalah target puasa kita semua yang baru selesai beberapa hari lalu, maka bila puasa kita mencapai sasarannya – insyaAllah.

Mestinya kita bisa menjadikan Al-Qur’an tidak hanya sebatas penerang/penjelasan (bayaan) tetapi juga sebagai petunjuk (huda) dan nasihat (mau’idhah) bagi kita semua – karena memang demikianlah orang-orang bertakwa bersikap terhadap Al-Qur’an.

Sebagai huda maupun mau’idhah, Al-Qur’an insyaAllah akan menggerakkan diri-diri kita untuk berbuat sesuatu yang baik, yang dalam dalam konteks inilah insyaAllah salah satunya kita akan membangun bersama negeri ini menjadi negeri yang baik- Baldatun Thoyyibah.
‪#‎memotivasi‬ diri sendiri.
rumah hikmah Description: Memahami Al Quran
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Memahami Al Quran
SelengkapnyaMemahami Al Quran

Tinggalkan Riba, Maisir, Gharar, Korupsi, ...

Posted by Noer Rachman Hamidi on Wednesday, August 7, 2013


Bila ditanya siapa yang memberi rezeki, dia akan langsung menjawab bahwa Allah-lah sang pemberi rezeki itu – tetapi dia tidak berani meninggalkan pekerjaannya yang bergelimang dengan riba, maisir, gharar, korupsi, nepotisme dan sejenisnya.

Dalam skala negeri yang lagi kacau-pun demikian, yang diharapkan menjadi pemimpin malah saling menelanjangi aib masing-masing, lalu masing-masing-pun berdo’a agar hukum ditegakkan dan keadilan yang akan menang. Masing-masing merasa benar, masing-masing merasa saling terdhalimi – lalu mereka berdo’a dengan harapan keadilan akan datang, mereka merasa berhak atas do’a yang pasti dikabulkan karena merasa dirinya adalah orang-orang yang terdhalimi.

Tetapi ironinya keadilan ini adalah versi mereka sendiri-sendiri, versi undang-undang yang dibuat oleh tangan-tangan mereka sendiri. Ironinya adalah mereka pada dihukum dengan hukum yang dibuat oleh mereka sendiri.

Mereka berada dalam kegelapan hukum kanan-kiri, atas-bawah, mereka mencari dan memohon keadilan. Namun ketika keadilan itu datang dalam bentuk petunjukNya yang sangat jelas (Al Qur’an), mereka tidak hiraukan petunjuk itu – mereka challenge petunjuk itu seolah akal merekalah yang lebih unggul. Mereka terus mencari keadilan dalam gelap, terus pula Sang Maha Pengasih dan Penyayang memberi petunjukNya yang semakin-jelas dan semakin jelas, tetapi lagi-lagi petunjuk itu terus tidak dihiraukan.

Maka agar kita selamat dari dampak fitnahnya, ketika pertolongan itu datang kepada kita dengan pesan yang loud and clear : “…POTONGLAH TALIMU…!!!”, tali yang mengikat kita dengan riba, dengan kedhaliman, dengan lingkungan politik yang korup, dengan kepitalisme yang merampas hak – maka potonglah tali itu - tali apapun yang menjadi tempat kita bergantung kepada selain Allah - potonglah dan ikutilah petunjukNya, karena sesungguhnya pertolonganNya itu benar adanya dan bumi Allah itu dekat di bawah kaki kita kemanapun kita berjalan. InsyaAllah.

Solusi Properti Description: Tinggalkan Riba, Maisir, Gharar, Korupsi, ...
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Tinggalkan Riba, Maisir, Gharar, Korupsi, ...
SelengkapnyaTinggalkan Riba, Maisir, Gharar, Korupsi, ...

Berhenti Berhutang adalah Awal Kemakmuran Umat

Posted by Noer Rachman Hamidi


Pada tahun 2020 – tujuh tahun dari sekarang - menurut situsnya Permanent Culture Now, kekuatan-kekuatan ekonomi besar yang mendominasi dunia saat ini akan dibebani oleh hutang yang melebihi GDP masing-masing.

Karena setiap negara akan berjuang habis-habisan untuk menyelamatkan negerinya sendiri, resiko perang dagang, perang dingin sampai perang yang sesungguhnya akan sulit kita bayangkan untuk saat itu.

Tetapi ada cara untuk menghentikan trend buruk ini, salah satunya adalah dengan berhenti berhutang !  Hal ini digambarkan dari kondisi hutang untuk beberapa negara dan trend-nya seperti Amerika – yang ekonominya sampai saat ini masih mendominasi dunia. Karena dominasi ini, negeri-negeri lain seolah menjadikannya sebagai lifestyle model – sehingga berhutang menjadi lifestyle baik di masyarakat, korporasi maupun negara.

Tetapi apa salahnya berhutang, bila bisa mengembalikannya ?. Yang berbahaya memang bukan hutangnya sendiri, tetapi di era kapitalisme itu hutang selalu disertai riba – disinilah masalahnya. Hutang yang disertai riba inilah yang membuat ekonomi biaya tinggi yang berujung pada hilangnya kemakmuran di seluruh dunia.

Perusahaan yang berhutang dan harus membayar bunga, mereka akan memasukkan biaya bunga ini ini pada biaya produksi baik itu barang ataupun jasa. Begitu seterusnya ketika produk tersebut akan dipasarkan oleh jaringan distribusi yang dibiayai dengan hutang berbunga – maka jaringan distribusi-pun menambahkan beban biaya bunganya pada produk yang akan dijual tersebut. Karena setiap mata rantai dari produsen, distributor, tansportasi, retailer dst. semua dibiayai dengan hutang yang berbunga dan masing-masing menambahkan biaya bunga pada produk yang akan dijual – maka harga produk menjadi jauh lebih mahal dari yang seharusnya.

Ditengah mahalnya produk yang dibebani mata rantai bunga tersebut, daya beli konsumen juga menurun karena beban hutang consumers yang juga melibatkan bunga – mulai dari credit card, cicilan rumah, cicilan mobil dlsb. Walhasil harga produk yang mahal tidak terjangkau oleh konsumen yang uangnya sudah banyak berkurang untuk membayar bunga.

Produk menjadi banyak yang tidak laku, dan perlu dicarikan pasarnya. Karena semua negara membutuhkan pasar yang seluas-luasnya, maka perebutan pasar inilah yang menimbulkan persaingan keras yang tidak sehat, negara-negara membanting ongkos produksi dengan menurunkan daya beli uangnya yang kemudian menimbulkan inflasi tinggi.

Karena semua negara melakukan hal yang nyaris sama, maka timbulah apa yang disebut tragedy of the common. Hal baik yang dilakukan satu pihak, menjadi musibah bila semua melakukannya.

Dampaknya defisit perdagangan akan melemahkan negara-negara yang dahulunya kuat, hutang terus melambung seperti pada ilustrasi tersebut diatas, kekacauan, perang dingin dan perang yang sesungguhnya menjadi sulit terelakkan.

Ketika negara terlibat perang, maka sebagian besar sumber daya yang ada akan dikerahkan untuk membiayai perang – walhasil rakyat yang sudah sengsara dengan krisis ekonomi yang berkepanjangan akan menjadi semakin sengsara ketika negerinya terlibat perang. Pertanyaannya adalah bagaimana menghentikan scenario yang buruk ini ?, salah satunya adalah menghentikan budaya hutang baik untuk skala negara, korporasi maupun individu.

Tetapi bagaimana misalnya secara konkrit mengatasi kebutuhan modal para korporasi yang memproduksi barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat ?. PLS-Based Economy and the Wealth Creation… Hutang-hutang yang berbasis riba tersebut dapat digantikan dengan kerjasama bagi hasil dan berbagi resiko atau disebut Profit & Loss Sharing (PLS) – dalam Islam disebut Syirkah dalam berbagai jenisnya.

Produsen yang dibiayai dengan akad PLS, tidak perlu menambahkan ongkos atau beban bunga pada harga produknya. Bila semua jalur distribusi, transportasi sampai para retailer –nya tidak ada yang membebankan biaya bunga (karena semua didanai dengan kontrak PLS), maka secara keseluruhan harga produk sampai konsumen sama sekali tidak dibebani dengan biaya bunga.

Harga produk adalah harga apa adanya ditambah keuntungan yang wajar. Bila harga produk yang wajar ini dipertemukan dengan konsumen yang daya beli dari penghasilannya juga tidak digerus oleh berbagai beban bunga – maka akan ketemulah produk-produk yang terjangkau oleh masyarakat konsumennya.

Lho para pemodal (shahibul mal) kan perlu dialokasikan bagi hasil juga ? Betul, mereka mendapatkan bagi hasil yang wajar yang jumlahnya tidak dijanjikan di depan. Jumlahnya akan tergantung pada profit margin dari putaran barang atau jasa (turn-over), bukan pada tingginya harga jual.

Meskipun margin perdagangan sedikit – tetapi dari perputaran barang dagangan yang cepat – akan lebih baik hasil akhirnya bagi pemodal maupun pengusahanya sendiri. Karena produk habis terkonsumsi oleh pasar dalam negeri dan hanya sedikit saja yang perlu dipertukarkan antar negara, maka persaingan di pasar akan lebih sehat karena hanya produk-produk yang tidak dihasilkan oleh suatu negara saja yang perlu diimpor.

Harga-harga dalam jangka panjang akan lebih stabil karena tidak ada mark-up beban bunga, dan negara-negara tidak perlu terus menerus menurunkan daya beli uangnya hanya untuk bersaing antar negara (currency war).

Negara yang hanya mengimpor produk yang bener-bener tidak bisa dihasilkan oleh negerinya akan cenderung surplus neraca perdagangannya. Negara yang surplus akan bisa terus mengurangi beban hutangnya sampai akhirnya habis dan bisa menjadi negara tanpa hutang.

Negara tanpa hutang akan nyaman dengan ekonominya sendiri, tidak perlungrusuh negara lain. Dunia akan damai dan penduduknya akan merasakan kemakmuran.

Maka sungguh benar berita nubuwah dari Rasulullah SAW dalam hadits : ” Tidak akan terjadi hari kiamat, sebelum harta kekayaan telah tertumpuk dan melimpah ruah, hingga seorang laki-laki pergi ke mana-mana sambil membawa harta zakatnyatetapi dia idak mendapatkan seorangpun yang bersedia menerima zakatnya itu. Dan sehingga tanah Arab menjadi subur makmur kembali dengan padang-padang rumput dan sungai-sungai ” (HR. Muslim).

Bahwa umat ini akan memimpin kemakmuran dunia tersirat dari hadits tersebut diatas – laki-laki yang pergi kemana-mana sambil membawa harta zakatnya – siapakah yang sadar zakat ini selain seorang Muslim ?. Tetapi sebelum kemakmuran itu bener-bener datang, kita harus memulai hal-hal yang akan menjadi penyebab datangnya kemakmuran itu – salah satunya adalah ya  berhenti berhutang !.

Rakyat seperti kita berhenti berhutang kecuali untuk hal yang bener-benar perlu, perusahaan berhenti berhutang dan menggantinya dengan pembiayaan PLS bila mereka perlu modal, dan negara-pun berhenti berhutang dalam membiayai segala kebutuhannya – insyaAllah masih banyak jalan bisa ditempuh asal ada kemauan politis yang kuat. InsyaAllah !.
Rumah Dinar
Description: Berhenti Berhutang adalah Awal Kemakmuran Umat
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Berhenti Berhutang adalah Awal Kemakmuran Umat
SelengkapnyaBerhenti Berhutang adalah Awal Kemakmuran Umat

Ketika Para Penguasa tidak bisa Selesaikan Tugasnya...

Posted by Noer Rachman Hamidi






Ketika para penguasa tidak bisa menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada di masyarakat atau bahkan sebagian dari kebijakannya justru menimbulkan masalah di masyarakat – seharusnya para ulama mampu mengingatkan mereka dengan nasihat yang solutif, atau bahkan mencegah mereka dari membuat kebijakan yang merugikan masyarakat.

Terjadinya banyak kecurangan di pasar, ketimpangan ekonomi, korupsi, perusakan sumber daya alam atas nama untuk mengejar pertumbuhan ekonomi, penjajahan ekonomi kapitalis di negara-negara berpenduduk mayoritas muslim dlsb. Tetapi masalah yang ada adalah para ulama tidak mampu memberikan solusi karena para ulama yang berilmu kurang menguasai praktek lapangannya.

Ulama-ulama sekarang bisa jadi beranggapan bahwa urusan tersebut kini adalah urusan ‘para-ahli’nya yaitu pemerintah dan para ahli ekonomi. Tetapi masalahnya adalah ketika pemerintah dan para ahli ekonomi tersebut tidak menggunakan rujukan yang adil – untuk kemaslahatan umat yang lebih luas dalam jangka panjang – maka tidak ada lagi yang mengingatkan mereka-mereka ini.

Lantas siapa ulama sekarang yang bisa mengingatkan pemerintah agar tidak membuat kebijakan moneter yang menimbulkan inflasi yang merugikan rakyat ? atau kebijakan yang membuat ekonomi biaya tinggi ?, harga pangan mahal ?, sebagian komoditi pangan harus diimpor?, petani dalam negeri harus head-to- head bersaing dengan industri pertanian raksasa negara maju, kerusakan lingkungan dlsb-dlsb?

Disinilah relevansinya meniru dakwah para wali dahulu yang telah membuat dakwah mereka mudah meluas dan merasuk kedalam hati masyarakat. Dakwah bil-haal mereka – yaitu dakwah yang mengedepankan perbuatan nyata - menyelesaikan problem-problemmasyarakat pada jamannya.
Wallahu A’lam.
rumah hikmah

Description: Ketika Para Penguasa tidak bisa Selesaikan Tugasnya...
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Ketika Para Penguasa tidak bisa Selesaikan Tugasnya...
SelengkapnyaKetika Para Penguasa tidak bisa Selesaikan Tugasnya...

Mengejar kemerdekaan hakiki...

Posted by Noer Rachman Hamidi






Kita sudah 67 tahun lebih merasakan kemerdekaan de jure itu, kita bisa mengibarkan bendera kita dan juga bisa menyanyikan lagu Indonesia Raya tanpa ada yang melarangnya. Tetapi secara de facto yang menjajah kita pasca kemerdekaan de jure memang bukan lagi negara tetapi apa yang disebut “corporatocracy” – gabungan kepentingan antara perusahaan-perusahaan raksasa dunia dengan institusi-institusi global.

Melalui penjajahan corporatocracy ini peternak sapi dalam negeri terjajah oleh impor daging, demikian pula dengan peternak susu, petani kedelai, petani jeruk dan berbagi buah-buahan lainnya. Atas nama perdagangan bebas petani dan pengusaha kecil di suatu negeri dengan mudah tergencet oleh industrialis raksasa dari negara-negara besar yang mencengkeram dunia.

Memang tidak dibutuhkan suatu negara untuk menjajah negara. Negeri ini pernah dijajah oleh sebuah perusahaan yang bernama Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), maka tidak mengherankan bila di jaman modern inipun kembali korporasi-korporasi raksasa dunia bisa menjajah kita.

Dengan cara mereka, kita dipaksa ‘mengibarkan bendera mereka’ dan dipaksa pula ‘menyanyikan lagu’ mereka. ‘Bendera’ ini terwakili oleh merek-merek dagang mereka, dan ‘lagu-lagu’ ini terwakili oleh kegemaran kita meniru budaya mereka.

Mudah-mudahan kita bisa terus melangkah, mengejar ketinggalan kita, mengejar kemerdekaan hakiki kita. Merdeka dalam system hukum, dalam system ekonomi, politik, perdagangan, budaya, pemikiran dst. Merdeka dengan bergandengan tangan… InsyaAllah !
Manufaktur Indonesia
Description: Mengejar kemerdekaan hakiki...
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Mengejar kemerdekaan hakiki...
SelengkapnyaMengejar kemerdekaan hakiki...

Bila Lahan yang subur berubah menjadi Gurun

Posted by Noer Rachman Hamidi


Di Indonesia yang Alhamdulillah masih diberi hujan yang relatif merata akan tetapi telah terjadi “proses perubahan lahan yang subur menjadi gurun (desertification)”. Desertification hanya terjadi bila pemilik lahan-lahan luas kebangetan dalam mentelantarkan lahannya. Ketika hujan turun dibiarkan air terus mengalir ke laut atau habis lagi menguap ke udara, maka dari sinilah awal proses desertification itu mulai.

Bila proses ini dibiarkan terus menerus – perlahan tetapi pasti – daerah gersang itu akan terus bertambah luas. Semakin luas kegersangan, semakin cepat lagi air yang turun menguap kembali ke udara – saat itulah proses desertification itu terakselerasi.

Sebelum ini terjadi, kita kudu berbuat sesuatu – agar kita tidak meninggalkan tanah di negeri yang seharusnya hijau royo-royo ini menjadi gurun bagi anak cucu kita. Tetapi apa konkritnya yang bisa kita lakukan agar desertification ini tidak terjadi ?

Idealnya adalah bila lahan-lahan di negeri ini dikelola secara syar’i. Yaitu lahan-lahan yang diterlantarkan oleh pemiliknya lebih dari tiga tahun, diambil alih oleh negara dan kemudian diserahkan kepada yang mampu memakmurkannya. Bila ini ditempuh, maka tidak akan ada lahan yang sempat nganggur melebihi tiga tahun – sehingga tidak sempat terjadi proses desertification.

Bila pemberlakukan syariat ini mungkin dianggap kurang pas di negeri Bhinneka Tunggal Ika ini, maka pemerintah perlu membuat aturan yang senada. Intinya pemerintah-pemerintah daerah harus mengawasi lahan-lahan di daerahnya agar tidak ada yang diterlantarkan.

Diluar apa yang bisa dilakukan oleh pemerintah, rakyat seperti kita juga banyak yang bisa dilakukan. Menanam pohon banyak-banyak adalah hal yang antara lain bisa kita lakukan ini. Perusahaan-perusahaan bisa mendanai penanaman pohon ini dengan dana CSR-nya kemudian rakyat yang banyak bisa dilibatkan dalam penanaman dan pemeliharaannya.

InsyaAllah dengan memakmurkan bumi, maka tidak akan ada lagi dari umat ini yang kekurangan pangan.
Agribisnis Indonesia Description: Bila Lahan yang subur berubah menjadi Gurun
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Bila Lahan yang subur berubah menjadi Gurun
SelengkapnyaBila Lahan yang subur berubah menjadi Gurun

Semangat membangun kemakmuran umat

Posted by Noer Rachman Hamidi on Tuesday, August 6, 2013


Disinilah ironi melihat negeri ini; ketika orang-orang di negeri yang tergolong miskin ikut menikmati makanan dari negeri-negeri yang tergolong kaya – mereka membayar sebagian dari ongkos makanan tersebut ke negeri kaya melalui system franchise dlsb. Sebaliknya ketika orang-orang kaya di manca negara menikmati menu dari negara-negara miskin, mereka tidak merasa perlu untuk membayar satu sen-pun ke negara miskin yang menghasilkan menu tersebut.

Inilah antara lain ketimpangan ekonomi dunia yang ditimbulkan oleh system ekonomi kapitalis, dimana negara-negara yang maju dengan kapital yang kuat mampu mengatur orang lain untuk mengikuti systemnya. Melalui hak patent, intellectual property right dan sejenisnya mereka mampu menyedot hasil dari setiap makanan cepat saji yang dimakan generasi muda bangsa ini, setiap software yang kita gunakan di rumah maupun kantor-kantor kita, bahkan juga dari setiap mainan ‘game’ yang dimainkan anak-anak kecil di negeri seperti kita.

Lantas apa yang mereka lakukan yang kita tidak lakukan sebenarnya, sehingga terjadi ketimpangan ini ?. Salah satunya adalah apa yang disebut proses industrialisasi. Ambil contohnya pada perbandingan makanan-makanan dibawah.

Sebelum Hamburger, French Fries , Fried Chicken dan sejenisnya masuk ke pasar Indonesia, menu makanan-makanan tersebut telah menjadi industri di negaranya. Diantara karakter industri adalah adanya standar proses, standar mutu, kelengkapan dan kontinyuitas. Ketika anak kita makan hamburger di salah satu restaurant cepat saji tersebut misalnya, penyajiannya sama dari satu lokasi ke lokasi lain, waktu delivery-nya sama, rasanya sama dan seterusnya. Di sisi supply bahan baku berupa tepung, daging, saus, sayuran dan segala macamnya juga ada standar yang sama dan masing-masing komponen harus selalu ada di setiap menu.

Bisa saja istri-istri kita membuat makanan-makanan yang lebih enak dari restaurant cepat saji tersebut, tetapi proses industrialisasinya yang tidak mudah untuk membuat makanan yang enak tersebut dalam jumlah banyak setiap hari dan di seluruh negeri. Tetapi tidak mudah tidak berarti tidak mungkin, bila ada diantara kita yang mau bekerja keras secara team – maka sangat mungkin kita-pun bisa meng-industrialisasi-kan menu-menu makanan asal negeri ini yang terkenal dengan keragaman citarasa-nya ini.

Dari semangat ini, kami sedang mempersiapkan Restauran Lautan Kepiting Asap di Otista, yang akan dilengkapi menunya dengan Lele Asap dan Nila/Mujair Asap hasil produksi dari peternakan ikan kami, InsyaAllah.

Marilah kita mulai memikirkan hal-hal kecil tetapi insyaallah berdampak besar dalam konteks memberi makan di hari kelaparan, mumpung ini bulan puasa – kita dapat merasakan betapa tidak enaknya lapar. Bila industri-industri yang sebelumnya tidak terbayang-kan pun terbangun, lapangan kerja insyallah tercipta, ekonomi berputar lebih cepat, impor berkurang dan ekspor meningkat – maka disitulah kemakmuran insyallah akan datang.

Seandainya Allah kelak bertanya ke kita “ mengapa engkau biarkan tetanggamu, sekian banyak penduduk negerimu sampai kelaparan di bumiKu yang gemah ripah loh jinawi – yang didaalmnya semuanya telah Aku sediakan ?”, kita inginnya bisa menjawab “Sudah Ya Allah, Aku bekerja keras disiang hari, berdo’a kepadaMu di malam hari, ingin agar aku, keluargaku, tetanggaku dan masyarakat di negeriku terhindar dari rasa lapar karena miskin Ya Allah; mengenai hasil, itu kuasaMu jua yang menentukan Ya Allah...”. Amin.
‪#‎memotivasi‬ diri sendiri.
rumah hikmah Description: Semangat membangun kemakmuran umat
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Semangat membangun kemakmuran umat
SelengkapnyaSemangat membangun kemakmuran umat

Menemukan rizki Allah SWT

Posted by Noer Rachman Hamidi


Betapa rizki Allah ditaburkan disekitar kita tanpa kita sadari. Rizki kita bukan dari kantor tempat kita bekerja, bukan dari instansi tempat kita mengabdi – mereka hanya sarana yang untuk sementara waktu dipilih Allah untuk menyalurkan rizki yang diberikanNya kepada kita.

Sarana bisa berganti kapan saja tidak masalah, sumber yang memberinya akan tetap ada. Bahkan ketika kita merasa rizki yang kita terima kurang, mungkin sarananya yang lagi macet – kita diajariNya untuk minta langsung kepada Sang Pemberi Rizki dengan cara beristigfar (QS Nuh 10 -12).

Lebih jauh lagi, alangkah indahnya bila kita bisa berperan menjadi sarana untuk penyaluran rizki dariNya untuk orang-orang di sekitar kita. Hal ini antara lain bisa kita lakukan bila kita menciptakan lapangan kerja bukan hanya untuk diri kita sendiri tetapi juga untuk orang lain.

Kita harus berani memulai dan menempuh risiko-risiko usaha yang tidak terbayangkan sebelumnya karena kita yakin rizki Allah selalu ada untuk kita semua – sampai akhir hayat kita.

Jadi ayo kita lawan rasa nyaman dan ragu, ayo ciptakan lapangan kerja....negeri ini sangat membutuhkannya.
Wallahu A'lam.
‪#‎memotivasi‬ diri sendiri.
Agribisnis Indonesia Description: Menemukan rizki Allah SWT
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Menemukan rizki Allah SWT
SelengkapnyaMenemukan rizki Allah SWT

Menghindari 2 penyebab kegagalan

Posted by Noer Rachman Hamidi


Dalam memulai ber-bisnis mandiri kita harus menghindarkan 2 penyebab kegagalan, yaitu Planned But Not Excuted (berencana tapi tidak dilaksanakan) dan Executed But Never Planned (melakukan tapi tanpa ada perencanaan). Sebaiknya tahapan yang harus kita lalui dalam menghindari kegagalan tersebut adalah sbb:

Pertama buatlah rencana; apapun rencana itu. Dalam dunia perencanaan, ada istilah “gagal untuk membuat rencana sama dengan merencanakan untuk gagal”. Bila Anda ingin sebagai professional sampai pensiun misalnya – maka rencanakanlah dengan baik dan bangun kompetensi Anda di profesi yang Anda pilih.
Bila Anda kini karyawan, manager atau eksekutif yang merencanakan untuk pindah kwadrant, maka rencanakanlah dengan baik dibidang usaha apa Anda akan terjun dan pada usia berapa akan mengalihkan kesibukan dan kebiasaan Anda dst.

Kedua adalah istiqomah atau disiplin dalam mengimplementasikan rencana Anda.
Setelah kita merencanakan dan berusaha mengimplementasikan secara maksimal, maka bersamaan dengan itulah kita bertawakkal kepada Allah – insyaAllah Allah akan menyempurnakan upaya dan rizki kita – rizki yang tidak harus berarti materi, bisa berupa keimanan, sakinah dan amal ibadah yang diridloi’Nya.

“... Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya...” (QS 65: 3)

Wallahu A'lam
‪#‎memotivasi‬ diri sendiri.
rumah hikmah Description: Menghindari 2 penyebab kegagalan
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Menghindari 2 penyebab kegagalan
SelengkapnyaMenghindari 2 penyebab kegagalan

Observasi untuk para pemula bisnis mandiri

Posted by Noer Rachman Hamidi


Dari hasil observasi terhadap para pemula pe-bisnis mandiri dalam memandang suatu masalah, secara sederhana dapat dikelompokkan dalam 4 golongan.

Golongan Pertama adalah golongan ayub-ayuben : mereka ini memandang masalah-masalah yang akan dihadapi sebagai (calon) pengusaha terlalu banyak, terlalu complicated, tidak siap menghadapinya, nunggu usia tertentu dlsb. Bagi mereka ini, program www.kantor-di-rumah.com – hanyalah menjadi just another training session – menambah wawasan tetapi tidak untuk diterapkan – paling tidak untuk sementara ini.

Golongan Kedua adalah golongan yang mencoba dan berhenti : ini adalah mereka-mereka yang antusias pasca kick-off bahkan mencoba merealisir gagasan demi gagasan kelompoknya, namun ketika masalah timbul – mereka berhenti.

Golongan Ketiga adalah golongan yang mencoba dan tidak menyerah : untuk sementara ini mereka belum berhasil secara konkrit, tetapi karena mereka tidak menyerah - mereka terus ketemu satu sama lain, berdiskusi dan mencari solusi. Saya sendiri berharap besar pada kelompok ini, insyaallah cepat atau lambat mereka akan berhasil nantinya.

Golongan Keempat adalah golongan yang bukan hanya berusaha mengatasi masalah-masalah yang timbul dalam merintis usaha, tetapi mereka memandang setiap masalah juga sebagai peluang – mereka lebih cerdas dari masalahnya sehingga mampu mengatasi segala permasalahan yang ada secara par excellence – terbaik dibidangnya !, maka bersamaan dengan penyelesaian masalah-masalah yang ada – mereka menemukan peluang-peluang baru yang muncul bersamaan dengan teratasi-nya masalah tersebut.

Peluang yang lahir bersamaan dengan proses penyelesaian masalah inilah salah satu tafsir yang seharusnya bisa kita hayati kini dari ayat “Maka bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (QS 94 : 5 – 6). Sampai dua kali Allah menyampaikan pesan tersebut dalam ayat yang berurutan untuk menyangatkan – agar kita benar-benar paham !.

Masalah-demi masalah baru mungkin akan lahir dari setiap pekerjaan yang kita tangani kedepan; namun bila sudut pandang kita tetap sesuai ayat tesebut – maka berarti berbagai peluang baru juga akan terus bermunculan dengan timbulnya masalah. Ini pula yang nampaknya disemangati oleh ayat berikutnya “Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)”.
Subhanallah...
‪#‎memotivasi‬ diri untuk terus semangat membangun bisnis mandiri.
rumah hikmah Description: Observasi untuk para pemula bisnis mandiri
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Observasi untuk para pemula bisnis mandiri
SelengkapnyaObservasi untuk para pemula bisnis mandiri

Visi sederhana untuk sebuah Negeri yang baik

Posted by Noer Rachman Hamidi


“Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun". (QS 34:15)

Pada ayat di atas Allah memberi suatu gambaran tentang negeri yang baik itu seperti apa, bukankah ini sangat layak untuk kita jadikan contoh – menjadi visi kita untuk negeri ini ?. Maka bila kita sepakat untuk menggunakan petunjuk Al-Qur’an ini untuk merumuskan visi negeri ini sebagai “Negeri Yang Baik atau Baldatun Thoyyibah”, insyaAllah petunjuk-petunjukNya yang lain akan segera mengikutinya untuk kita bisa sungguh-sungguh mengimplementasikan strategy-nya, action plan-nya dst untuk tercapainya Baldatun Thayyibah ini.

Di ayat yang sama bahkan sudah digambarkan beberapa poin yang bisa menjadi strategy untuk Baldatun Thoyyibah itu :

1) Adanya dua buah kebun, di kanan dan di kiri :
ini sangat cocok untuk negeri tropis yang berada di katulistiwa ini. Negeri dengan kekayaan biodiversity terbesar di dunia, insyaAllah kita bisa menjadi unggul bila kita bisa meng-eksplorasi kekayaan ini dan menjadikan negeri ini negeri kebun – dimana-mana kehijaun, dimana-mana kebun.

2) Makan dari rezeki yang di anugerahkan Tuhanmu:
masih terkait dengan poin satu. Kebun kita bukan sembarang kebun, tetapi kebun-kebun yang menghasilkan pangan yang cukup. Negeri ini akan swasembada pangan dari kebun-kebun tersebut.

3) Bersyukur :
kekayaan alam berupa tanah yang subur dan kekayaan biodiversity-nya, harus senantiasa kita syukuri dengan merawat dan menjaga/melestarikannya – tidak boleh sedikit-pun merusaknya.

4) Allah Yang Maha Pengampun :
Bila selama ini kita belum pandai mensyukuri nikmat kita, kita bukannya melestarikan kekayaan alam yang kita miliki tetapi malah merusaknya – itupun bukan berarti kita tidak lagi berkesempatan untuk mengembalikannya, kita harus bisa menyadari kekeliruan kita selama ini kemudian kita memhon ampun kepada Sang Maha Pengampun.

Maka visi sederhana Baldatun Thayyibah yang diuraikan dalam empat poin tersebut di atas, bila kita sepakati bersama dan kita bergerak bareng ke arah sana dari waktu ke waktu, mengontrol siapapun pemerintahnya yang menyeleweng dari visi tersebut – insyaAllah kita akan sampai pada negeri yang kita cita-citakan – yaitu Negeri Yang Baik – Baldatun Thoyyibahitu.
InsyaAllah.
rumah hikmah Description: Visi sederhana untuk sebuah Negeri yang baik
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Visi sederhana untuk sebuah Negeri yang baik
SelengkapnyaVisi sederhana untuk sebuah Negeri yang baik

Ladang ber-amal baik

Posted by Noer Rachman Hamidi


Allah SWT yang telah memberi kita dunia ini untuk ladang beramal terbaik, sehingga siapapun ketika waktunya tiba ‘berhenti bekerja’ (berhenti beramal alias mati), ingin dihidupkan kembali agar dapat beramal yang lebih baik lagi. Bahkan orang-orang yang syahid di jalan Allah sekalipun, mereka ingin dihidupkan kembali kemudian syahid lagi, dihidupkan lagi dan kemudian syahid lagi dst.

Karena semua kebaikan akan balik pada diri kita – hal jazaa ul ihsaani illal ihsaan – maka mengapa kita tidak ‘rajin mengasah diri ini’ sehingga mampu berbuat lebih dari yang menjadi kewajiban dan tidak kehilangan fokus sampai akhir hayat ?.

Ibaratnya kita menjadi petani yang menanam tumbuhan; bila satu butir biji saja bisa menghasilkan ratusan biji baru yang siap ditanam lagi dalam tempo sekitar 6 bulan, maka tidak ada alasan pula bagi kita untuk membiarkan ada tanah-tanah yang tetap gersang atau mati setelah datangnya petunjuk yang begitu nyata ini.

Tiadalah bagi seorang muslim yang menanam suatu tanaman, atau menanam suatu pohon, lalu sebagian dari hasilnya dimakan oleh burung atau manusia atau binatang ternak, kecuali hal tersebut merupakan sedekah baginya. (Hadist riwayat Bukhari dan Muslim dari Anas )

Semoga Allah memudahkan kita. Amin YRA.
www.agribisnis-indonesia.com Description: Ladang ber-amal baik
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Ladang ber-amal baik
SelengkapnyaLadang ber-amal baik

Mencari solusi kemakmuran umat

Posted by Noer Rachman Hamidi


Di Indonesia saat ini lebih banyak kaum pedagang dibandingkan kaum produsen. Hal ini yang menyebabkan devisa negara selalu tergerus ke luar negeri akibat kita lebih banyak impor daripada ekspor.

Sekarang harga daging sapi sangat mahal dan supply-nyapun harus diimpor, demikian pula dengan bawang dan cabe. Bukankah ini bisa diatasi bila desa-desa kita beternak dan bertani komoditi-komoditi utama dengan cukup? Kemacetan yang semakin menjadi-jadi di hampir seluruh kota besar di Indonesia, bukankah akan teratasi dengan sendirinya bila terjadi arus balik orang kembali ke desa?

Bisa jadi selama ini kita mencari solusi di tempat yang salah, solusi berbasis kapitalisme dan impor – yang dalam jangka panjang justru bisa menyengsarakan rakyat sendiri. Padahal solusi yang sesungguhnya itu ada di depan mata kita, berupa petunjuk Ilahi dan potensi yang ada di desa-desa kita sendiri.
Wallahu A'lam.
www.agribisnis-indonesia.com Description: Mencari solusi kemakmuran umat
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Mencari solusi kemakmuran umat
SelengkapnyaMencari solusi kemakmuran umat

Strategi mengatasi ketahanan pangan mandiri

Posted by Noer Rachman Hamidi


Dengan alasan karena tidak terkendalinya harga barang-barang kebutuhan pokok, berbagai media pagi ini memberitakan keputusan pemerintah untuk menurunkan harga dengan cara menambah supply. Tetapi karena supply dalam negeri dipandang tidak memadai, supply yang digenjot adalah impor.

Maka dibukalah impor untuk barang-barang kebutuhan pokok seperti bawang merah, cabai dan daging sapi. Kalau ini hanya dilakukan kali ini, mudah dimengerti karena bisa jadi inilah satu-satunya jalan yang bisa ditempuh saat ini untuk meredam gejolak harga di pasar. Tetapi kita tentu berharap pemerintah punya strategy jangka panjangnya – agar tidak lagi kita mendengar petani dan peternak kita terpojokkan dan kalah bersaing dengan produk-produk impor yang kerannya sengaja dibuka dengan berbagai alasan seperti kepepet kali ini.

Lebih jauh lagi, dalam dua tahun mendatang pintu AEC (ASEAN Economic Community) akan terbuka. Petani dan peternak kita akan head to head dengan para petani dan peternak dari Thailand, Vietnam dlsb. yang sangat berambisi memperluas pasarnya. Jangan sampai AEC nanti justru menjadi salah satu penyebab utama yang dominan – bagi inflasi kebutuhan pokok kita yang tidak terkendali,

Tidak hanya menjadi tugas pemerintah untuk mencegah hal tersebut terjadi, rakyat seperti kita juga harus bisa ikut berbuat. Bisa dengan meningkatkan produksi atas bahan-bahan kebutuhan pokok kita sendiri, ataupun mulai men-diversifikasi bahan pangan utama kita dlsb.

Kita harus bisa berfikir out of the box, misalnya mumpung ini di bulan puasa – mengapa tidak kita mulai membiasakan makan kurma sehingga tidak lagi tergantung pada bawang dan cabe ?. Bukan berarti kita harus meninggalkan makanan pokok lainnya, tetapi dengan mengikuti sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berbuka dengan kurma saja akan menurunkan demand terhadap makanan tradisional kita. Ketika demand turun, harga akan otomatis turun – dan ini kebaikan untuk semuanya.

Tentu saja belajar makan kurma ini harus juga dibarengi dengan belajar menanamnya, agar kelak ketika demand sudah tinggi kita juga sudah harus bisa memproduksinya sendiri.

Demikian pula untuk daging, mengapa tidak kita mulai makan daging dari gembalaan para nabi yaitu kambing ?, mengapa harus daging sapi ?. Lagi-lagi bukan berarti daging sapi harus ditinggalkan sama-sekali, tetapi ketika sebagian demand itu pindah sebagian ke daging kambing – harga daging sapi akan turun – lagi-lagi kebaikan untuk semuanya. InsyaAllah !.

Yuk, kita belajar bersama www.agribisnis-indonesia.com untuk bersama-sama kita membangun kemakmuran umat di negara yang sudah seharusnya hijau royo-royo ini.
Wallahu A'lam.
www.rumah-hikmah.com Description: Strategi mengatasi ketahanan pangan mandiri
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Strategi mengatasi ketahanan pangan mandiri
SelengkapnyaStrategi mengatasi ketahanan pangan mandiri

Ukuran Negeri dengan kemudahan berusaha

Posted by Noer Rachman Hamidi


Contoh negeri-negeri yang memberikan kemudahan dalam memulai usaha adalah Singapore (1), Hongkong (2) dan New Zealand (3), prosedur untuk memulai usaha itu berkisar antara 1 (New Zealand) sampai tiga (Singapore dan Hongkong) tahap saja. Sementara di Indonesia masih 9 tahap. Sembilan tahap itu-pun masing-masing penuh dengan tingkat kesulitannya sendiri-sendiri.

Misalnya untuk mengurus perijinan konstruksi – kalau usaha Anda perlu bangunan – ada 13 tahap perijinan sebelum Anda bisa membangun. Dan untuk memperoleh perijinan ini saja diperlukan waktu rata-rata 158 hari atau lima bulan lebih !.

Bila usaha Anda butuh listrik – ya pastinya butuhlah!, ada 6 prosedur untuk pengurusannya dan memerlukan waktu 108 hari atau lebih dari 3 bulan. Belum masalah-masalah lain seperti urusan pajak, masalah kredit modal, perburuhan, masalah hukum dlsb.

Walhasil intinya memulai usaha itu tidak mudah, apalagi bila kita memulainya di negeri dengan ranking kemudahan usaha 128 seperti negeri kita ini. Jangan lupa bahwa selain faktor eksternal seperti berbagai prosedur perijinan tersebut, ada pula faktor internal dari (calon) pengusaha itu sendiri – seperti kesiapan mental, skills, modal, team dlsb.

Lantas apakah kita akan give-up dengan berbagai kesulitan tersebut ? InsyaAllah tidak!. Kita yakin dengan janji Allah bahwa : “…sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (QS 94:5-6).

InsyaAllah akan terus semangat dalam membangun kemakmuran umat. Berkahi dan mudahkanlah kami selalu ya Allah, Amin YRA.
‪#‎memotivasi‬ diri sendiri.
www.manufaktur-indonesia.com Description: Ukuran Negeri dengan kemudahan berusaha
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Ukuran Negeri dengan kemudahan berusaha
SelengkapnyaUkuran Negeri dengan kemudahan berusaha

Melawan Kebatilan yang terorganisir

Posted by Noer Rachman Hamidi


“…kebatilan yang terorganisir rapi akan mengalahkan kebenaran yang tidak terorganisir…”

Mereka menguasai ekonomi dunia - seperti ungkapan tersebut di atas, karena mereka memang melakukan sejumlah hal yang tidak atau belum kita lakukan. Antara lain tercermin dalam setidaknya tiga hal berikut :

Pertama tentang akses permodalan. Keseriusan zionis Israel untuk menguasai ekonomi dunia antara lain dilakukan melalui negara yang memberi akses modal bagi usaha-usaha baru dengan rasio sampai 1 : 1. Artinya bila pengusaha warga negeri itu menyiapkan investasi US$ 1 juta untuk usahanya, negara bisa menambah modalnya sampai US$ 1 juta juga. Program yang dalam bahasa Ibrani disebut Yozma yang berarti inisitatif ini, berhasil melonjakkan jumlah pengusaha-pengusaha baru di Israel yang kemudian mereka merambah dunia.

Kedua setelah akses per-bank-an dan permodalan dunia mereka kuasai, mereka dengan leluasa membelanjakannya juga untuk kepentingan mereka. Dengan akses capital ini zionis Israel mampu membiayai R & D dalam skala yang sangat besar. Civilian R & D mereka yang berada pada angka 4.5 % dari GDP merupakan yang tertinggi di dunia.

Yang ketiga adalah karena seluruh penduduk zionis Israel terkena wajib militer, maka seluruh pengusaha-pengusaha negeri itu memiliki latar belakang militer yang kuat. Ini membuat mereka membawa disiplin tinggi dan militansi a la militer kedalam usahanya. Latar belakang militer ini juga membuat para pengusaha mereka tahan banting, ketika ada di antara mereka yang gagal - bukan dijauhi atau masuk kotak – tetapi menjadi kajian untuk membangun keberhasilan berikutnya.

Dengan kelebihan-kelebihan mereka ini lantas tidak berarti kita akan meniru atau berguru pada mereka untuk membangun keberhasilan kita. Justru sebaliknya untuk meyadarkan kita bahwa kita mestinya bisa lebih baik. Ajaran agama kita yang dibawa oleh Nabi akhir zaman adalah menyempurnakan ajaran yang dibawakan oleh seluruh nabi-nabi sebelumnya, ajaran agama kita meluruskan apa-apa yang dibelokkan oleh mereka.

Maka yang kita perlukan adalah bagaimana kita bisa mengorganisir diri secara rapi – berjama’ah membangun kekuatan ekonomi kita bersama. Bila kebenaran ini berhasil kita kelola secara lebih baik dari mereka mengelola kebatilan – maka insyaAllah janji Allah bahwa “…kamulah yang tertinggi…” (QS 3 : 139) itu akan terwujud.
Wallahu A'lam.
www.rumah-hikmah.com Description: Melawan Kebatilan yang terorganisir
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Melawan Kebatilan yang terorganisir
SelengkapnyaMelawan Kebatilan yang terorganisir

Grafik Harga Dinar terhadap Rupiah