Showing posts with label introspeksi. Show all posts
Showing posts with label introspeksi. Show all posts

Ideologi kita yang seharusnya...

Posted by Noer Rachman Hamidi on Monday, August 19, 2013


Semenjak runtuhnya tatanan kenegaraan Islam alias Khilafah Islamiyyah pada tahun 1924 atau 1342 Hijriyyah, maka dunia menyaksikan berdirinya berbagai Nation State atau Negara Kebangsaan. Bangsa-bangsa Muslim membangun negara di negerinya masing-masing dengan menjadikan nasionalisme sebagai landasan kehidupan berbangsa dan bernegara. Suatu perubahan yang sangat signifikan dan mendasar jika dibandingkan dengan tatanan kenegaraan sebelumnya dimana Khilafah Islamiyyah menjadi sebuah sistem yang mempersatukan segenap ummat Islam berdasarkan kesatuan aqidah Islamiyyah dan dengan sendirinya kesatuan fikrah Islamiyyah alias ideologi Islam.

Dalam tatanan kenegaraan Negara Kebangsaan faktor bangsa menjadi sebab persatuan dan kesatuan. Sedangkan dalam sistem Khilafah Islamiyyah faktor Islam sebagai keyakinan dan ideologi menjadi sebab persatuan dan kesatuan. Maka dengan sendirinya kita menyaksikan mengapa sejak munculnya berbagai Nation State di tengah kehidupan bernegara ummat Islam terjadilah degradasi penghayatan Islam sebagai ideologi dan peningkatan penghayatan ideologi kebangsaan di dalam diri banyak ummat Islam.

Sesungguhnya Islam tidak menafikan kehadiran bangsa dalam kehidupan ummat manusia. Hadirnya aneka jenis bangsa adalah suatu keniscayaan dalam realitas sosial masyarakat dunia. Al-Qur’an mengakui kenyataan ini.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا
وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ta’aala ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah ta’aala Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Al-Hujurat ayat 13)

Namun Islam tidak pernah memandang bahwa mulia-hinanya seseorang atau sekelompok orang ditentukan oleh faktor bangsa. Lain halnya dengan urusan taqwa dan aqidah. Islam sangat peduli dengan beriman-tidaknya seseorang atau sekelompok orang. Suatu masyarakat yang terdiri atas kumpulan orang-orang beriman dipandang sebagai masyarakat yang mulia di mata Allah ta’aala. Sedangkan masyarakat yang ingkar alias kafir adalah masyarakat yang hina di mata Allah ta’aala, betapapun secara material dan teknologi ia merupakan masyarakat maju.

إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتِ النَّعِيمِ أَفَنَجْعَلُ
الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ

“Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) surga-surga yang penuh keni’matan di sisi Tuhannya. Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Mengapa kamu (berbuat demikian): bagaimanakah kamu mengambil keputusan?” (QS Al-Qolam ayat 34-36)

Khilafah Islamiyyah merupakan tatanan kehidupan bernegara ummat Islam yang mempersatukan segenap kaum muslimin dari ujung timur hingga ujung barat bumi Allah ta’aala. Penghayatan siapa yang menjadi in-group atau out-group ummat adalah aqidah Islamiyah. Sedangkan dalam kehidupan Negara Kebangsaan maka siapa yang dianggap sebagai in-group bangsa adalah siapapun, apapun keyakinan dan agamanya, asalkan ia sebangsa dan setanah-air, maka ia dianggap sebagai saudara sebangsa. Siapapun yang di luar negaranya dan bangsanya dianggap sebagai out-group kendati ia memiliki aqidah Islamiyyah yang serupa dengan aqidahnya.

Maka wajarlah bilamana seorang Muslim yang menerima dengan sukarela apalagi dengan sungguh-sungguh faham Nasionalisme akan cenderung menjadi sulit menampilkan ideologi Islam sebagai identitas pertama dan utamanya. Ia akan cenderung mendegradasikan identitas Islamnya demi menjaga persatuan dan kesatuan dengan sesama ”anak bangsa” yang beraneka ragam latar belakang keyakinan dan agama. Dan orang seperti ini akan sulit untuk bisa memandang kaum muslimin di luar bangsanya sebagai saudara seiman yang harus lebih dia utamakan daripada saudara sebangsa dan setanah-airnya.

Padahal ketika sudah masuk liang lahat malaikat samasekali tidak akan menanyakan soal identitas bangsa jenazah. Tetapi jelas ia akan ditanya soal identitas agamanya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits di bawah ini:

فَتُعَادُ رُوحُهُ فِي جَسَدِهِ فَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولَانِ لَهُ
مَنْ رَبُّكَ فَيَقُولُ رَبِّيَ اللَّهُ فَيَقُولَانِ لَهُ مَا دِينُكَ فَيَقُولُ دِينِيَ الْإِسْلَامُ

Maka ruhnya dikembalikan ke jasadnya, datang dua malaikat bertanya:”Siapa rabbmu?” Dia menjawab:”Rabbku Allah”, lalu :”Apa diin(agama)-mu?” Dia jawab:”Diin-ku Islam.” (HR Ahmad)

Ya. Allah, jadikanlah kami benar-benar ridha akan Islam sebagai agama, identitas dan ideologi kami tanpa perlu di embel-embeli dengan identitas dan ideologi lainnya. Ya Allah, kami yakin bahwa ajaranMu sudah sempurna dan lengkap.

رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا

“Aku ridha Allah sebagai Rabbku, Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam sebagai Rasul dan Islam sebagai Agama.”
Amin YRA

rumah hikmah.


Description: Ideologi kita yang seharusnya...
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Ideologi kita yang seharusnya...
SelengkapnyaIdeologi kita yang seharusnya...

Berusaha mengentaskan Kemiskinan

Posted by Noer Rachman Hamidi on Sunday, August 18, 2013


Selama sepuluh tahun terakhir, hanya dua tahun dimana PDB Per Kapita kita mampu melampaui nishab zakat yaitu tahun 2001 (20.35 Dinar) dan 2002 (21.20 Dinar). Tahun-tahun berikutnya cenderung menurun dan terendah tahun 2009 yang tinggal 16.55 Dinar.

Apa maknanya PDB Per Kapita yang dibawah nishab zakat ini ?, artinya rata-rata penduduk negeri ini berhak menerima zakat dan belum wajib zakat. Maknanya adalah rata-rata penduduk negeri ini masih tergolong miskin menurut standar Islam, dengan timbangan yang kita yakini akurat sepanjang zaman yaitu nishab zakat yang 20 Dinar tersebut.

Namun realita ini tidak perlu membuat kita bersedih atau berkecil hati karena kemiskinan tidak teratasi dengan hanya bersedih, bahkan akan bertambah parah bila kita berkecil hati. Yang kita perlukan adalah setelah sadar akan realita ini adalah apa yang bisa kita perbuat untuk ikut terlibat dalam upaya pengentasan kemiskinan tersebut.

Inilah peluang itu, kini terbuka peluang lebar bagi kita untuk menempuh jalan yang mendaki lagi sukar untuk bisa berbuat sesuatu dalam ikut memerangi kemiskinan. Membangun usaha yang bisa menciptakan lapangan pekerjaan seluas-luasnya tentu tidak mudah, lebih mudah bekerja di perusahaan atau instansi yang mapan – dengan perbagai fasilitasnya.

Namun kalau mayoritas kita berpikiran demikian lantas tugas siapa untuk menciptakan lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya ini?; Tugas pemerintahkah?. Para pemimpin negeri ini tentu akan ditanya nanti atas kepemimpinannya, namun kita sebagai individu juga akan tetap ditanya atas apa yang kita lakukan.

Ayat-ayat dibawah bukan hanya ditujukan untuk para pemimpin negeri ini, tetapi untuk kita semua. Punya jawabankah kita bila waktunya kelak kita ditanya akan hal ini?.
“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan). Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?. (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan...”. (Al-Balad 10-14)

Dalam Islam bekerja secara maksimal diajarkan dalam rangkaian do’a yang tergabung dalam do’a khatam Al Qur’an:
“....Allhummaj’al khaira ‘umry aakhirahu wa khaira ‘amaly khawaatimahu wa khaira ayyaami yauma alqooka fiih”,
yang artinya, “Ya Allah jadikanlah yang terbaik dari umurku adalah akhirnya, dan yang terbaik dari amal perbuatanku adalah penutupnya, dan yang terbaik dari hariku adalah hari ketika aku bertemu denganMu....”.

Do’a untuk mati di puncak pencapaian ini juga dicontohkan di Al-Qu’ran. Ketika Nabi Yusuf Alaihi Salam sudah menjadi raja dan sudah dipertemukan dengan kedua orang tuanya yang terpisah sejak kecil, dia-pun memohon : “Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian takbir mimpi. (Ya Tuhan). Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (QS 12:101).

Semoga Allah memudahkan kita untuk amal yang diridloiNya. Amin YRA.
‪#‎memotivasi‬ diri sendiri.
www.rumah-hikmah.com Description: Berusaha mengentaskan Kemiskinan
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Berusaha mengentaskan Kemiskinan
SelengkapnyaBerusaha mengentaskan Kemiskinan

Instropeksi Diri

Posted by Noer Rachman Hamidi


Aku khawatir terhadap suatu masa yang rodanya dapat menggilas keimanan. Keyakinan tinggal pemikiran, yang tidak berbekas pada perbuatan:

✔ Banyak orang baik, tapi tidak berakal..
✔ Ada orang berakal, tapi tidak beriman..
✔ Ada yang berlidah fasih, tapi berhati lalai..
✔ Ada yang khusyuk, tapi sibuk dalam kesendirian..
✔ Ada yang ahli ibadah, tapi mewarisi kesombongan iblis..
✔ Ada yang ahli maksiat, tapi rendah hati bagaikan kaum sufi..
✔ Ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat, dan..
✔ Ada yang banyak menangis karena kufur nikmat..
✔ Ada yang murah senyum, tapi hatinya mengumpat..
✔ Ada yang berhati tulus, tapi wajahnya cemberut..
✔ Ada yang berlisan bijak, tapi tak memberi teladan..
✔ Ada pezina, yang tampil jadi figur..
✔ Ada yang punya ilmu, tapi tidak paham..
✔ Ada yang paham, tapi tidak menjalankan..
✔ Ada yang pintar, tapi membodohi..
✔ Ada yang bodoh, tapi tak tahu diri..
✔ Ada yang beragama, tapi tidak berakhlak..
✔ Ada yang berakhlak, tapi tidak ber-Tuhan..
✔ Lalu, diantara semua itu.. aku ada dimana?! Astaghfirullah...

#istighfar...
kumpulan catatan-catanan Noer Rachman Hamidi Description: Instropeksi Diri
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Instropeksi Diri
SelengkapnyaInstropeksi Diri

Memahami Al Quran

Posted by Noer Rachman Hamidi


“(Al Qur'an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS 3:138).

Bila hanya sebagai penerang atau penjelasan (bayaan), maka Al-Qur’an adalah untuk semua manusia (linnaas). Itulah sebabnya banyak orang yang sangat memahami Al-Qur’an, tetapi Al-Qur’an-nya tidak/belum tentu menjadi petunjuk dan nasihat baginya – Al-Qur’an berhenti sebatas ilmu atau sekedar penjelasan baginya. Al-Qur’an tidak menjadi perbuatan atau amalan-nya.

Al-Qur’an baru menjadi penggerak bila setelah menjadi ilmu atau pemahaman, Al-Qur’an berlanjut menjadi petunjuk (huda) dan nasihat (mau’idhah) – dan ini hanya berlaku bagi orang-orang yang bertakwa (lilmuttaqiin).

Namanya juga petunjuk, Al-Qur’an akan menjadi petunjuk dan nasihat - bila setelah memahaminya orang tergerak untuk ber’amal sesuatu (yang baik) atau menghentikan suatu amal/perbuatan (yang buruk). Karena takwa antara lain adalah target puasa kita semua yang baru selesai beberapa hari lalu, maka bila puasa kita mencapai sasarannya – insyaAllah.

Mestinya kita bisa menjadikan Al-Qur’an tidak hanya sebatas penerang/penjelasan (bayaan) tetapi juga sebagai petunjuk (huda) dan nasihat (mau’idhah) bagi kita semua – karena memang demikianlah orang-orang bertakwa bersikap terhadap Al-Qur’an.

Sebagai huda maupun mau’idhah, Al-Qur’an insyaAllah akan menggerakkan diri-diri kita untuk berbuat sesuatu yang baik, yang dalam dalam konteks inilah insyaAllah salah satunya kita akan membangun bersama negeri ini menjadi negeri yang baik- Baldatun Thoyyibah.
‪#‎memotivasi‬ diri sendiri.
rumah hikmah Description: Memahami Al Quran
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Memahami Al Quran
SelengkapnyaMemahami Al Quran

Tinggalkan Riba, Maisir, Gharar, Korupsi, ...

Posted by Noer Rachman Hamidi on Wednesday, August 7, 2013


Bila ditanya siapa yang memberi rezeki, dia akan langsung menjawab bahwa Allah-lah sang pemberi rezeki itu – tetapi dia tidak berani meninggalkan pekerjaannya yang bergelimang dengan riba, maisir, gharar, korupsi, nepotisme dan sejenisnya.

Dalam skala negeri yang lagi kacau-pun demikian, yang diharapkan menjadi pemimpin malah saling menelanjangi aib masing-masing, lalu masing-masing-pun berdo’a agar hukum ditegakkan dan keadilan yang akan menang. Masing-masing merasa benar, masing-masing merasa saling terdhalimi – lalu mereka berdo’a dengan harapan keadilan akan datang, mereka merasa berhak atas do’a yang pasti dikabulkan karena merasa dirinya adalah orang-orang yang terdhalimi.

Tetapi ironinya keadilan ini adalah versi mereka sendiri-sendiri, versi undang-undang yang dibuat oleh tangan-tangan mereka sendiri. Ironinya adalah mereka pada dihukum dengan hukum yang dibuat oleh mereka sendiri.

Mereka berada dalam kegelapan hukum kanan-kiri, atas-bawah, mereka mencari dan memohon keadilan. Namun ketika keadilan itu datang dalam bentuk petunjukNya yang sangat jelas (Al Qur’an), mereka tidak hiraukan petunjuk itu – mereka challenge petunjuk itu seolah akal merekalah yang lebih unggul. Mereka terus mencari keadilan dalam gelap, terus pula Sang Maha Pengasih dan Penyayang memberi petunjukNya yang semakin-jelas dan semakin jelas, tetapi lagi-lagi petunjuk itu terus tidak dihiraukan.

Maka agar kita selamat dari dampak fitnahnya, ketika pertolongan itu datang kepada kita dengan pesan yang loud and clear : “…POTONGLAH TALIMU…!!!”, tali yang mengikat kita dengan riba, dengan kedhaliman, dengan lingkungan politik yang korup, dengan kepitalisme yang merampas hak – maka potonglah tali itu - tali apapun yang menjadi tempat kita bergantung kepada selain Allah - potonglah dan ikutilah petunjukNya, karena sesungguhnya pertolonganNya itu benar adanya dan bumi Allah itu dekat di bawah kaki kita kemanapun kita berjalan. InsyaAllah.

Solusi Properti Description: Tinggalkan Riba, Maisir, Gharar, Korupsi, ...
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Tinggalkan Riba, Maisir, Gharar, Korupsi, ...
SelengkapnyaTinggalkan Riba, Maisir, Gharar, Korupsi, ...

Berhenti Berhutang adalah Awal Kemakmuran Umat

Posted by Noer Rachman Hamidi


Pada tahun 2020 – tujuh tahun dari sekarang - menurut situsnya Permanent Culture Now, kekuatan-kekuatan ekonomi besar yang mendominasi dunia saat ini akan dibebani oleh hutang yang melebihi GDP masing-masing.

Karena setiap negara akan berjuang habis-habisan untuk menyelamatkan negerinya sendiri, resiko perang dagang, perang dingin sampai perang yang sesungguhnya akan sulit kita bayangkan untuk saat itu.

Tetapi ada cara untuk menghentikan trend buruk ini, salah satunya adalah dengan berhenti berhutang !  Hal ini digambarkan dari kondisi hutang untuk beberapa negara dan trend-nya seperti Amerika – yang ekonominya sampai saat ini masih mendominasi dunia. Karena dominasi ini, negeri-negeri lain seolah menjadikannya sebagai lifestyle model – sehingga berhutang menjadi lifestyle baik di masyarakat, korporasi maupun negara.

Tetapi apa salahnya berhutang, bila bisa mengembalikannya ?. Yang berbahaya memang bukan hutangnya sendiri, tetapi di era kapitalisme itu hutang selalu disertai riba – disinilah masalahnya. Hutang yang disertai riba inilah yang membuat ekonomi biaya tinggi yang berujung pada hilangnya kemakmuran di seluruh dunia.

Perusahaan yang berhutang dan harus membayar bunga, mereka akan memasukkan biaya bunga ini ini pada biaya produksi baik itu barang ataupun jasa. Begitu seterusnya ketika produk tersebut akan dipasarkan oleh jaringan distribusi yang dibiayai dengan hutang berbunga – maka jaringan distribusi-pun menambahkan beban biaya bunganya pada produk yang akan dijual tersebut. Karena setiap mata rantai dari produsen, distributor, tansportasi, retailer dst. semua dibiayai dengan hutang yang berbunga dan masing-masing menambahkan biaya bunga pada produk yang akan dijual – maka harga produk menjadi jauh lebih mahal dari yang seharusnya.

Ditengah mahalnya produk yang dibebani mata rantai bunga tersebut, daya beli konsumen juga menurun karena beban hutang consumers yang juga melibatkan bunga – mulai dari credit card, cicilan rumah, cicilan mobil dlsb. Walhasil harga produk yang mahal tidak terjangkau oleh konsumen yang uangnya sudah banyak berkurang untuk membayar bunga.

Produk menjadi banyak yang tidak laku, dan perlu dicarikan pasarnya. Karena semua negara membutuhkan pasar yang seluas-luasnya, maka perebutan pasar inilah yang menimbulkan persaingan keras yang tidak sehat, negara-negara membanting ongkos produksi dengan menurunkan daya beli uangnya yang kemudian menimbulkan inflasi tinggi.

Karena semua negara melakukan hal yang nyaris sama, maka timbulah apa yang disebut tragedy of the common. Hal baik yang dilakukan satu pihak, menjadi musibah bila semua melakukannya.

Dampaknya defisit perdagangan akan melemahkan negara-negara yang dahulunya kuat, hutang terus melambung seperti pada ilustrasi tersebut diatas, kekacauan, perang dingin dan perang yang sesungguhnya menjadi sulit terelakkan.

Ketika negara terlibat perang, maka sebagian besar sumber daya yang ada akan dikerahkan untuk membiayai perang – walhasil rakyat yang sudah sengsara dengan krisis ekonomi yang berkepanjangan akan menjadi semakin sengsara ketika negerinya terlibat perang. Pertanyaannya adalah bagaimana menghentikan scenario yang buruk ini ?, salah satunya adalah menghentikan budaya hutang baik untuk skala negara, korporasi maupun individu.

Tetapi bagaimana misalnya secara konkrit mengatasi kebutuhan modal para korporasi yang memproduksi barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat ?. PLS-Based Economy and the Wealth Creation… Hutang-hutang yang berbasis riba tersebut dapat digantikan dengan kerjasama bagi hasil dan berbagi resiko atau disebut Profit & Loss Sharing (PLS) – dalam Islam disebut Syirkah dalam berbagai jenisnya.

Produsen yang dibiayai dengan akad PLS, tidak perlu menambahkan ongkos atau beban bunga pada harga produknya. Bila semua jalur distribusi, transportasi sampai para retailer –nya tidak ada yang membebankan biaya bunga (karena semua didanai dengan kontrak PLS), maka secara keseluruhan harga produk sampai konsumen sama sekali tidak dibebani dengan biaya bunga.

Harga produk adalah harga apa adanya ditambah keuntungan yang wajar. Bila harga produk yang wajar ini dipertemukan dengan konsumen yang daya beli dari penghasilannya juga tidak digerus oleh berbagai beban bunga – maka akan ketemulah produk-produk yang terjangkau oleh masyarakat konsumennya.

Lho para pemodal (shahibul mal) kan perlu dialokasikan bagi hasil juga ? Betul, mereka mendapatkan bagi hasil yang wajar yang jumlahnya tidak dijanjikan di depan. Jumlahnya akan tergantung pada profit margin dari putaran barang atau jasa (turn-over), bukan pada tingginya harga jual.

Meskipun margin perdagangan sedikit – tetapi dari perputaran barang dagangan yang cepat – akan lebih baik hasil akhirnya bagi pemodal maupun pengusahanya sendiri. Karena produk habis terkonsumsi oleh pasar dalam negeri dan hanya sedikit saja yang perlu dipertukarkan antar negara, maka persaingan di pasar akan lebih sehat karena hanya produk-produk yang tidak dihasilkan oleh suatu negara saja yang perlu diimpor.

Harga-harga dalam jangka panjang akan lebih stabil karena tidak ada mark-up beban bunga, dan negara-negara tidak perlu terus menerus menurunkan daya beli uangnya hanya untuk bersaing antar negara (currency war).

Negara yang hanya mengimpor produk yang bener-bener tidak bisa dihasilkan oleh negerinya akan cenderung surplus neraca perdagangannya. Negara yang surplus akan bisa terus mengurangi beban hutangnya sampai akhirnya habis dan bisa menjadi negara tanpa hutang.

Negara tanpa hutang akan nyaman dengan ekonominya sendiri, tidak perlungrusuh negara lain. Dunia akan damai dan penduduknya akan merasakan kemakmuran.

Maka sungguh benar berita nubuwah dari Rasulullah SAW dalam hadits : ” Tidak akan terjadi hari kiamat, sebelum harta kekayaan telah tertumpuk dan melimpah ruah, hingga seorang laki-laki pergi ke mana-mana sambil membawa harta zakatnyatetapi dia idak mendapatkan seorangpun yang bersedia menerima zakatnya itu. Dan sehingga tanah Arab menjadi subur makmur kembali dengan padang-padang rumput dan sungai-sungai ” (HR. Muslim).

Bahwa umat ini akan memimpin kemakmuran dunia tersirat dari hadits tersebut diatas – laki-laki yang pergi kemana-mana sambil membawa harta zakatnya – siapakah yang sadar zakat ini selain seorang Muslim ?. Tetapi sebelum kemakmuran itu bener-bener datang, kita harus memulai hal-hal yang akan menjadi penyebab datangnya kemakmuran itu – salah satunya adalah ya  berhenti berhutang !.

Rakyat seperti kita berhenti berhutang kecuali untuk hal yang bener-benar perlu, perusahaan berhenti berhutang dan menggantinya dengan pembiayaan PLS bila mereka perlu modal, dan negara-pun berhenti berhutang dalam membiayai segala kebutuhannya – insyaAllah masih banyak jalan bisa ditempuh asal ada kemauan politis yang kuat. InsyaAllah !.
Rumah Dinar
Description: Berhenti Berhutang adalah Awal Kemakmuran Umat
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Berhenti Berhutang adalah Awal Kemakmuran Umat
SelengkapnyaBerhenti Berhutang adalah Awal Kemakmuran Umat

Ketika Para Penguasa tidak bisa Selesaikan Tugasnya...

Posted by Noer Rachman Hamidi






Ketika para penguasa tidak bisa menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada di masyarakat atau bahkan sebagian dari kebijakannya justru menimbulkan masalah di masyarakat – seharusnya para ulama mampu mengingatkan mereka dengan nasihat yang solutif, atau bahkan mencegah mereka dari membuat kebijakan yang merugikan masyarakat.

Terjadinya banyak kecurangan di pasar, ketimpangan ekonomi, korupsi, perusakan sumber daya alam atas nama untuk mengejar pertumbuhan ekonomi, penjajahan ekonomi kapitalis di negara-negara berpenduduk mayoritas muslim dlsb. Tetapi masalah yang ada adalah para ulama tidak mampu memberikan solusi karena para ulama yang berilmu kurang menguasai praktek lapangannya.

Ulama-ulama sekarang bisa jadi beranggapan bahwa urusan tersebut kini adalah urusan ‘para-ahli’nya yaitu pemerintah dan para ahli ekonomi. Tetapi masalahnya adalah ketika pemerintah dan para ahli ekonomi tersebut tidak menggunakan rujukan yang adil – untuk kemaslahatan umat yang lebih luas dalam jangka panjang – maka tidak ada lagi yang mengingatkan mereka-mereka ini.

Lantas siapa ulama sekarang yang bisa mengingatkan pemerintah agar tidak membuat kebijakan moneter yang menimbulkan inflasi yang merugikan rakyat ? atau kebijakan yang membuat ekonomi biaya tinggi ?, harga pangan mahal ?, sebagian komoditi pangan harus diimpor?, petani dalam negeri harus head-to- head bersaing dengan industri pertanian raksasa negara maju, kerusakan lingkungan dlsb-dlsb?

Disinilah relevansinya meniru dakwah para wali dahulu yang telah membuat dakwah mereka mudah meluas dan merasuk kedalam hati masyarakat. Dakwah bil-haal mereka – yaitu dakwah yang mengedepankan perbuatan nyata - menyelesaikan problem-problemmasyarakat pada jamannya.
Wallahu A’lam.
rumah hikmah

Description: Ketika Para Penguasa tidak bisa Selesaikan Tugasnya...
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Ketika Para Penguasa tidak bisa Selesaikan Tugasnya...
SelengkapnyaKetika Para Penguasa tidak bisa Selesaikan Tugasnya...

Bila Lahan yang subur berubah menjadi Gurun

Posted by Noer Rachman Hamidi


Di Indonesia yang Alhamdulillah masih diberi hujan yang relatif merata akan tetapi telah terjadi “proses perubahan lahan yang subur menjadi gurun (desertification)”. Desertification hanya terjadi bila pemilik lahan-lahan luas kebangetan dalam mentelantarkan lahannya. Ketika hujan turun dibiarkan air terus mengalir ke laut atau habis lagi menguap ke udara, maka dari sinilah awal proses desertification itu mulai.

Bila proses ini dibiarkan terus menerus – perlahan tetapi pasti – daerah gersang itu akan terus bertambah luas. Semakin luas kegersangan, semakin cepat lagi air yang turun menguap kembali ke udara – saat itulah proses desertification itu terakselerasi.

Sebelum ini terjadi, kita kudu berbuat sesuatu – agar kita tidak meninggalkan tanah di negeri yang seharusnya hijau royo-royo ini menjadi gurun bagi anak cucu kita. Tetapi apa konkritnya yang bisa kita lakukan agar desertification ini tidak terjadi ?

Idealnya adalah bila lahan-lahan di negeri ini dikelola secara syar’i. Yaitu lahan-lahan yang diterlantarkan oleh pemiliknya lebih dari tiga tahun, diambil alih oleh negara dan kemudian diserahkan kepada yang mampu memakmurkannya. Bila ini ditempuh, maka tidak akan ada lahan yang sempat nganggur melebihi tiga tahun – sehingga tidak sempat terjadi proses desertification.

Bila pemberlakukan syariat ini mungkin dianggap kurang pas di negeri Bhinneka Tunggal Ika ini, maka pemerintah perlu membuat aturan yang senada. Intinya pemerintah-pemerintah daerah harus mengawasi lahan-lahan di daerahnya agar tidak ada yang diterlantarkan.

Diluar apa yang bisa dilakukan oleh pemerintah, rakyat seperti kita juga banyak yang bisa dilakukan. Menanam pohon banyak-banyak adalah hal yang antara lain bisa kita lakukan ini. Perusahaan-perusahaan bisa mendanai penanaman pohon ini dengan dana CSR-nya kemudian rakyat yang banyak bisa dilibatkan dalam penanaman dan pemeliharaannya.

InsyaAllah dengan memakmurkan bumi, maka tidak akan ada lagi dari umat ini yang kekurangan pangan.
Agribisnis Indonesia Description: Bila Lahan yang subur berubah menjadi Gurun
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Bila Lahan yang subur berubah menjadi Gurun
SelengkapnyaBila Lahan yang subur berubah menjadi Gurun

Menghindari 2 penyebab kegagalan

Posted by Noer Rachman Hamidi on Tuesday, August 6, 2013


Dalam memulai ber-bisnis mandiri kita harus menghindarkan 2 penyebab kegagalan, yaitu Planned But Not Excuted (berencana tapi tidak dilaksanakan) dan Executed But Never Planned (melakukan tapi tanpa ada perencanaan). Sebaiknya tahapan yang harus kita lalui dalam menghindari kegagalan tersebut adalah sbb:

Pertama buatlah rencana; apapun rencana itu. Dalam dunia perencanaan, ada istilah “gagal untuk membuat rencana sama dengan merencanakan untuk gagal”. Bila Anda ingin sebagai professional sampai pensiun misalnya – maka rencanakanlah dengan baik dan bangun kompetensi Anda di profesi yang Anda pilih.
Bila Anda kini karyawan, manager atau eksekutif yang merencanakan untuk pindah kwadrant, maka rencanakanlah dengan baik dibidang usaha apa Anda akan terjun dan pada usia berapa akan mengalihkan kesibukan dan kebiasaan Anda dst.

Kedua adalah istiqomah atau disiplin dalam mengimplementasikan rencana Anda.
Setelah kita merencanakan dan berusaha mengimplementasikan secara maksimal, maka bersamaan dengan itulah kita bertawakkal kepada Allah – insyaAllah Allah akan menyempurnakan upaya dan rizki kita – rizki yang tidak harus berarti materi, bisa berupa keimanan, sakinah dan amal ibadah yang diridloi’Nya.

“... Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya...” (QS 65: 3)

Wallahu A'lam
‪#‎memotivasi‬ diri sendiri.
rumah hikmah Description: Menghindari 2 penyebab kegagalan
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Menghindari 2 penyebab kegagalan
SelengkapnyaMenghindari 2 penyebab kegagalan

Observasi untuk para pemula bisnis mandiri

Posted by Noer Rachman Hamidi


Dari hasil observasi terhadap para pemula pe-bisnis mandiri dalam memandang suatu masalah, secara sederhana dapat dikelompokkan dalam 4 golongan.

Golongan Pertama adalah golongan ayub-ayuben : mereka ini memandang masalah-masalah yang akan dihadapi sebagai (calon) pengusaha terlalu banyak, terlalu complicated, tidak siap menghadapinya, nunggu usia tertentu dlsb. Bagi mereka ini, program www.kantor-di-rumah.com – hanyalah menjadi just another training session – menambah wawasan tetapi tidak untuk diterapkan – paling tidak untuk sementara ini.

Golongan Kedua adalah golongan yang mencoba dan berhenti : ini adalah mereka-mereka yang antusias pasca kick-off bahkan mencoba merealisir gagasan demi gagasan kelompoknya, namun ketika masalah timbul – mereka berhenti.

Golongan Ketiga adalah golongan yang mencoba dan tidak menyerah : untuk sementara ini mereka belum berhasil secara konkrit, tetapi karena mereka tidak menyerah - mereka terus ketemu satu sama lain, berdiskusi dan mencari solusi. Saya sendiri berharap besar pada kelompok ini, insyaallah cepat atau lambat mereka akan berhasil nantinya.

Golongan Keempat adalah golongan yang bukan hanya berusaha mengatasi masalah-masalah yang timbul dalam merintis usaha, tetapi mereka memandang setiap masalah juga sebagai peluang – mereka lebih cerdas dari masalahnya sehingga mampu mengatasi segala permasalahan yang ada secara par excellence – terbaik dibidangnya !, maka bersamaan dengan penyelesaian masalah-masalah yang ada – mereka menemukan peluang-peluang baru yang muncul bersamaan dengan teratasi-nya masalah tersebut.

Peluang yang lahir bersamaan dengan proses penyelesaian masalah inilah salah satu tafsir yang seharusnya bisa kita hayati kini dari ayat “Maka bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (QS 94 : 5 – 6). Sampai dua kali Allah menyampaikan pesan tersebut dalam ayat yang berurutan untuk menyangatkan – agar kita benar-benar paham !.

Masalah-demi masalah baru mungkin akan lahir dari setiap pekerjaan yang kita tangani kedepan; namun bila sudut pandang kita tetap sesuai ayat tesebut – maka berarti berbagai peluang baru juga akan terus bermunculan dengan timbulnya masalah. Ini pula yang nampaknya disemangati oleh ayat berikutnya “Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)”.
Subhanallah...
‪#‎memotivasi‬ diri untuk terus semangat membangun bisnis mandiri.
rumah hikmah Description: Observasi untuk para pemula bisnis mandiri
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Observasi untuk para pemula bisnis mandiri
SelengkapnyaObservasi untuk para pemula bisnis mandiri

Kenapa petani Indonesia tidak mencapai kemakmuran?

Posted by Noer Rachman Hamidi


Petani sangat berpotensi makmur karena hanya dengan bekerja sedikit, hasilnya bisa sangat banyak. Dia hanya perlu menanam kurma sekali, menanam zaitun sekali, menanam anggur sekali dst. kemudian dia memanennya setiap saat sampai berpuluh tahun bahkan beratus tahun.

Oh dia juga perlu menanam padi, gandum dlsb. sekali untuk kemudian panen sekali. Tetapi lagi-lagi, dia hanya perlu menanam benih satu dua biji; hasilnya beratus biji untuk setiap benihnya. Dia tidak bisa menumbuhkannya dan juga tidak bisa membesarkannya, Allah-lah yang menumbuhkan dan membesarkannya.

Dengan begitu besarnya keterlibatan Allah dalam menumbuhkan dan membesarkan tanaman pak tani ini, maka 5 % sampai 10% zakat menjadi sangat pantas. Petani-pun seharusnya menjadi bagian dari masyarakat yang berkemakmuran tinggi.

Kenapa realitasnya tidak demikian ?, karena petani didhalimi oleh system. Dia tidak lagi menanam hanya sekedar menanam, tetapi juga harus mengeluarkan begitu banyak biaya untuk pupuk, insektisida, pestisida dlsb. Petani menjadi korban para pemasar produk-produk kimia ini.

Petani juga tidak memiliki akses pasar, hasil panenannya dibeli dengan murah oleh para tengkulak – bahkan sebagian diijon sehingga petani tidak sempat menikmati hasil panenannya sendiri. Dia menjadi korban dari system pasar yang tidak adil.

Petani juga tidak dibina untuk menanam kombinasi tanaman-tanaman yang efektif. Dia fokus ke jenis tanaman monokultur yang rentan terhadap hama dan rentan terhadap fluktuasi harga pasar ketika musim panen tiba. Petani tidak diajari menanam tanpa bantuan pupuk kimia, insektisida, pestisida dlsb.

Semoga kita bisa menjadi pembawa perubahan yang dapat membawa kemakmuran umat di negara yang hijau royo-royo ini. Amin YRA.
Agribisnis Indonesia Description: Kenapa petani Indonesia tidak mencapai kemakmuran?
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Kenapa petani Indonesia tidak mencapai kemakmuran?
SelengkapnyaKenapa petani Indonesia tidak mencapai kemakmuran?

Mencari solusi kemakmuran umat

Posted by Noer Rachman Hamidi


Di Indonesia saat ini lebih banyak kaum pedagang dibandingkan kaum produsen. Hal ini yang menyebabkan devisa negara selalu tergerus ke luar negeri akibat kita lebih banyak impor daripada ekspor.

Sekarang harga daging sapi sangat mahal dan supply-nyapun harus diimpor, demikian pula dengan bawang dan cabe. Bukankah ini bisa diatasi bila desa-desa kita beternak dan bertani komoditi-komoditi utama dengan cukup? Kemacetan yang semakin menjadi-jadi di hampir seluruh kota besar di Indonesia, bukankah akan teratasi dengan sendirinya bila terjadi arus balik orang kembali ke desa?

Bisa jadi selama ini kita mencari solusi di tempat yang salah, solusi berbasis kapitalisme dan impor – yang dalam jangka panjang justru bisa menyengsarakan rakyat sendiri. Padahal solusi yang sesungguhnya itu ada di depan mata kita, berupa petunjuk Ilahi dan potensi yang ada di desa-desa kita sendiri.
Wallahu A'lam.
www.agribisnis-indonesia.com Description: Mencari solusi kemakmuran umat
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Mencari solusi kemakmuran umat
SelengkapnyaMencari solusi kemakmuran umat

Ukuran Negeri dengan kemudahan berusaha

Posted by Noer Rachman Hamidi


Contoh negeri-negeri yang memberikan kemudahan dalam memulai usaha adalah Singapore (1), Hongkong (2) dan New Zealand (3), prosedur untuk memulai usaha itu berkisar antara 1 (New Zealand) sampai tiga (Singapore dan Hongkong) tahap saja. Sementara di Indonesia masih 9 tahap. Sembilan tahap itu-pun masing-masing penuh dengan tingkat kesulitannya sendiri-sendiri.

Misalnya untuk mengurus perijinan konstruksi – kalau usaha Anda perlu bangunan – ada 13 tahap perijinan sebelum Anda bisa membangun. Dan untuk memperoleh perijinan ini saja diperlukan waktu rata-rata 158 hari atau lima bulan lebih !.

Bila usaha Anda butuh listrik – ya pastinya butuhlah!, ada 6 prosedur untuk pengurusannya dan memerlukan waktu 108 hari atau lebih dari 3 bulan. Belum masalah-masalah lain seperti urusan pajak, masalah kredit modal, perburuhan, masalah hukum dlsb.

Walhasil intinya memulai usaha itu tidak mudah, apalagi bila kita memulainya di negeri dengan ranking kemudahan usaha 128 seperti negeri kita ini. Jangan lupa bahwa selain faktor eksternal seperti berbagai prosedur perijinan tersebut, ada pula faktor internal dari (calon) pengusaha itu sendiri – seperti kesiapan mental, skills, modal, team dlsb.

Lantas apakah kita akan give-up dengan berbagai kesulitan tersebut ? InsyaAllah tidak!. Kita yakin dengan janji Allah bahwa : “…sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (QS 94:5-6).

InsyaAllah akan terus semangat dalam membangun kemakmuran umat. Berkahi dan mudahkanlah kami selalu ya Allah, Amin YRA.
‪#‎memotivasi‬ diri sendiri.
www.manufaktur-indonesia.com Description: Ukuran Negeri dengan kemudahan berusaha
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Ukuran Negeri dengan kemudahan berusaha
SelengkapnyaUkuran Negeri dengan kemudahan berusaha

Dicari Para Entrepreneur Baru...

Posted by Noer Rachman Hamidi


Kita sangat butuh startup-startup pe-bisnis mandiri dalam jumlah yang banyak karena negeri ini adalah negeri besar dengan beragam masalah atau kebutuhannya yang tentu saja juga besar. Bila yang bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang besar itu hanya kelompok yang itu-itu saja, maka itulah proses konglomerasi yang terjadi di negeri ini hingga kini.

Ekonomi konglomerasi yang terjadi di negeri ini adalah ekonomi tsamudian – ekonominya bangsa tsamud dimana sumber-sumber ekonomi hanya dikuasai oleh segelintir orang. Maka sebelum ekonomi tsamudian ini membawa kehancuran, konsentrasi penguasaan ekonomi itu harus bisa disebar hingga merata.

Kita harus membangun sebanyak-banyaknya entrepreneur-entrepreneur yang baru walaupun pendidikan sekolah kita memang dibuat tidak mendukung untuk tujuan tersebut. Wallahu A'lam.
www.kantor-di-rumah.com Description: Dicari Para Entrepreneur Baru...
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Dicari Para Entrepreneur Baru...
SelengkapnyaDicari Para Entrepreneur Baru...

Bila teknologi pertanian dikuasai Kapitalis

Posted by Noer Rachman Hamidi


Ketika teknologi pertanian itu dipegang oleh tangan yang salah, dia menggunakan satu sisi yang paling menguntungkan dirinya sendiri atau kelompoknya – tidak peduli bermilyar orang di dunia kelaparan karenanya.

Sebagian kelaparan di dunia sekarang ini adalah karena segelintir orang dengan kapital besar menguasai benih pangan dunia. Mereka merubah ciptaan Allah, yaitu benih yang mestinya selalu bisa ditanam kembali, menjadi benih–benih yang mandul – kecuali benih yang mereka kuasai hak paten-nya. Sehingga orang harus selalu membeli benih yang mahal setiap kali hendak menanam, karena hasil panenannya sendiri tidak bisa ditanam kembali sebagian – tidak bisa menjadi benih.

Akan adanya aksi pengrusakan benih untuk kepentingan para pemegang paten benih ini – sesungguhnya sudah diingatkan Allah melalui ayat berikut : “Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak (keturunan) tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan.” (QS 2:205)

Teknologi pertanian itu haruslah kita kuasai, kita bisa gunakan sisi terbaiknya untuk manfaat manusia sedunia, mengamankan pangan mereka dan mengentaskan kemiskinan semaksimal mungkin. Ketika mereka merusaknya dengan teknologi, maka kita-pun harus bisa memperbaikinya dengan teknologi yang sama atau bahkan lebih baik. Amin YRA.
Wallahu A'lam
www.agribisnis-indonesia.com Description: Bila teknologi pertanian dikuasai Kapitalis
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Bila teknologi pertanian dikuasai Kapitalis
SelengkapnyaBila teknologi pertanian dikuasai Kapitalis

Peristiwa mengawinkan kurma jantan dengan betina di jaman Nabi

Posted by Noer Rachman Hamidi


Peristiwa mengawinkan kurma jantan dengan betina di jaman Nabi tersebut bahkan menjadi asbabul wurud – latar belakang hadits terkenal ‘kalian lebih tahu urusan dunia kalian’. Hadits lengkapnya diriwayatkan dari Musa bin Thalhah dari bapaknya dia berkata : “Saya bersama Rasulullah pernah berjalan melewati orang-orang yang sedang berada di pucuk pohon kurma. Tak lama kemudian beliau bertanya : “Apa yang dilakukan oleh orang-orang itu ?” Para sahabat menjawab : “Mereka sedang mengawinkan pohon kurma dengan meletakkan benang sari pada putik agar bisa berbuah”. Maka Rasulullah-pun bersabda : “Aku kira perbuatan mereka itu tidak ada gunanya” Thalhah berkata : “Kemudian mereka diberitahukan tentang sabda Rasulullah itu. Lalu mereka tidak mengawinkan pohon kurma”. Selang beberapa waktu kemudian, Rasulullah diberitahu bahwa pohon kurma yang dahulu tidak dikawinkan itu tidak berbuah lagi. Lalu Rasulullah Shallallhu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Jika perkawinan pohon kurma itu berguna bagi mereka, maka mereka hendaklah terus melanjutkannya. Sebenarnya aku hanya berpendapat pribadi, tetapi jika aku beritahukan kepada kalian tentang sesuatu dari Allah, maka hendaklah kalian menerimanya. Karena aku tidak pernah mendustakan Allah”. (HR. Muslim).
www.agribisnis-indonesia.com Description: Peristiwa mengawinkan kurma jantan dengan betina di jaman Nabi
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Peristiwa mengawinkan kurma jantan dengan betina di jaman Nabi
SelengkapnyaPeristiwa mengawinkan kurma jantan dengan betina di jaman Nabi

Melawan Kemungkaran di jaman ini

Posted by Noer Rachman Hamidi


Dalam Islam, orang beriman memiliki kewajiban untuk berbuat sesuatu manakala melihat kemungkaran. Yang terbaik tentu berbuat dengan (tangan) atau kekuasaannya, kalau tidak bisa baru dengan ucapannya (jaman sekarang bisa berarti tulisan !), dan kalau inipun tidak bisa setidaknya mengubah (menolak) dalam hatinya – dan ini selemah-lemah iman.

“Barangsiapa diantara kamu yang melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya; jika ia tidak mampu, maka ubahlah dengan lisannya; dan jika tidak mampu,(ubahlah) dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemahiman.” (HR Bukhari, Muslim, dan Ashabus Sunan).

Kemungkaran di jaman ini banyak sekali bentuknya, bisa berupa kebijakan publik yang menyengsarakan rakyat. Bisa system ekonomi yang membuat si kaya tambah kaya dan memperbanyak jumlah penduduk miskin. Bisa berupa penyia-nyiaan lahan produktif hanya untuk kepentingan spekulasi, penguasaan berlebihan sumber daya alam oleh sekelompok orang tertentu dlsb. dlsb. Intinya kita harus berbuat sesuatu bila melihat kemungkaran, bila selemah-lemah iman itu mengubah atau menolak dalam hati, berarti kalau hati kita tidak menolaknya – jangan-jangan memang tidak ada atau belum ada iman di hati kita ?

Bisa jadi yang kita lakukan ini adalah hal yang sangat kecil, akal manusia-pun tidak sampai bisa memahami hal yang sangat kecil tersebut. Tetapi di hadapan Yang Maha Kuasa, tidak ada yang terlalu kecil untuk merubah sesuatu yang sangat besar. Maka sekarang waktunya kita berbuat untuk melawan kemungkaran itu, sekecil apapun yang bisa kita lakukan… Mudah-mudahan dengan yang kecil itu kita bisa menghadirkan pertolonganNya Yang Maha Kuasa !. Amin YRA.
www.agribisnis-indonesia.com Description: Melawan Kemungkaran di jaman ini
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Melawan Kemungkaran di jaman ini
SelengkapnyaMelawan Kemungkaran di jaman ini

Food, Energy and Water (FEW)

Posted by Noer Rachman Hamidi


Ada tiga masalah kebutuhan pokok manusia yaitu: Food, Energy and Water (FEW), ditambah satu lagi yang terasa semakin penting dengan kasus asap – yaitu udara bersih (Air) – menjadi empat FEWA (Food, Energy, Water and Air) – semuanya itu bisa diatasi dengan satu solusi yang efficient – yaitu menanam !

Maka tidak mengherankan bila menanam adalah suatu pekerjaan yang tetap dianjurkan untuk dilakukan sekalipun rangkaian peristiwa kiamat sudah mulai.

Menanam untuk mengatasi paceklik dan kebutuhan pangan ada di surat Yusuf (QS 12:47), sedang apa yang ditanam antara lain ada di surat Ar-Ra’d (QS 13:4) dan Yaasiin (QS 36 : 33-35). Apa yang ditanam ini nantinya bisa juga mengasilkan energy, ada di surat Al-Waaqi’ah (QS 56 : 71- 72) dan Yaasiin (QS 36 :80). Bahkan yang ditanam juga akan memancarkan mata air (QS 36 :34) dan mengalirkan sungai (QS 19 : 23-24).

Dengan bahan makanan yang cukup, energy yang terpenuhi dan air yang melimpah, manusia tidak perlu lagi membakar hutan hanya untuk bercocok tanam. Udara bersih-pun insyaAllah tetap cukup terpelihara untuk seluruh isi bumi – kita tidak perlu membakar hutan untuk menanam , tidak juga diperlukan BLSM (Bantuan Langsung Sementara Masyarakat) tentunya !
Wallahu A'lam.
Agribisnis Indonesia Description: Food, Energy and Water (FEW)
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Food, Energy and Water (FEW)
SelengkapnyaFood, Energy and Water (FEW)

Apakah BLSM itu solusi?

Posted by Noer Rachman Hamidi


Apakah BLSM (Bantuan Langsung Sementara Masyarakat) untuk meringankan beban rakyat miskin menghadapi inflasi yang ditrigger oleh kenaikan harga BBM ini merupakan solusi yang effective dan efficient?

Anda bisa tes menanyakan hal ini ke 10 orang, saya yakin sebagian besarnya akan bilang tidak effective dan tidak efficient.

Tidak effective karena dia hanya mengobati symptoms atau gejala-gejala sesaat, tidak mengobati penyakit beratnya beban hidup itu sendiri – beban kemiskinan.
Tidak efficient karena bisa Anda saksikan betapa besar kerepotan program BLSM ini sendiri, dananya, systemnya, SDM yang terlibat dari menteri sampai aparat-aparat di daerah-daerah terpencil – semuanya hanya untuk mengatasi symptoms sesaat – tidak menyembuhkan penyakit itu sendiri.

Lantas apakah ada solusi yang effective dan efficient untuk masalah-masalah kemiskinan dan masalah sosial semacam ini ?

Jawabannya tergantung kita sendiri, yaitu apakah prasyaratnya dapat kita penuhi atau tidak.
Apa prasyaratnya itu ? Iman dan takwa ! (QS 7:96). Bila tanpa iman, diberi petunjuk didepan mata-pun kita akan ngeyel atau setidaknya akan ragu. Bila tanpa takwa, apa yang diperintahkan-pun tidak kita laksanakan malah sebaliknya yang dilarang yang kita lakukan - na’udzubillah.

solusi properti Description: Apakah BLSM itu solusi?
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Apakah BLSM itu solusi?
SelengkapnyaApakah BLSM itu solusi?

Janganlah berlebihan

Posted by Noer Rachman Hamidi


“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS 7 :31).

Bayangkan dengan berawal dari ayat ini saja, akan sangat banyak perubahan di alam yang akan bisa kita rintis. Untuk bisa makan lima kali sehari yaitu setiap pulang dari masjid (melaksanakan sholat fardhu), pasti makanan itu sederhana dan pasti kita juga tidak berlebih-lebihan dalam hal makanan.

Ketika makanan kita tidak berlebih-lebihan, kita juga akan sedikit nyampah. Emisi CO2 di alam berkurang, bumi menjadi tidak cepat panas. Karena makanan kita sederhana – tidak memerlukan pemrosesan yang berlebihan, akan sangat banyak energy yang bisa dihemat – sehingga tidak perlu menguras sumber daya alam.
‪#‎memotivasi‬ diri sendiri.
rumah hikmah Description: Janganlah berlebihan
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Janganlah berlebihan
SelengkapnyaJanganlah berlebihan

Grafik Harga Dinar terhadap Rupiah